Kabinet Jokowi

Ingin Ubah Budaya, Tito Bandingkan antara Polri dan Kemendagri

Perubahan budaya yang ingin ia bawa adalah menekankan bahwa pejabat serta aparatur sipil negara (ASN) merupakan pelayan publik.

Ingin Ubah Budaya, Tito Bandingkan antara Polri dan Kemendagri
Rizal Bomantama
Mendagri Tito Karnavian memimpin apel pagi di Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat pada Kamis (24/10/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jenderal (Purn) Pol Tito Karnavian ingin melakukan perubahan budaya di lingkungan Kemendagri saat dirinya ditunjuk sebagai Menteri Dalam Negeri di Kabinet Indonesia Maju.

Perubahan budaya yang ingin ia bawa adalah menekankan bahwa pejabat serta aparatur sipil negara (ASN) merupakan pelayan publik.

Tito juga mengatakan perubahan budaya tersebut pernah ia lakukan saat pertama menjabat Kapolri, meskipun diakuinya tidak mudah.

Presiden Joko Widodo didampingi Wapres Ma'ruf Amin berfoto bersama usai mengenalkan jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju di tangga beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Presiden Joko Widodo resmi melantik 34 Menteri, 3 Kepala Lembaga Setingkat Menteri, dan Jaksa Agung untuk Kabinet Indonesia Maju. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Presiden Joko Widodo didampingi Wapres Ma'ruf Amin berfoto bersama usai mengenalkan jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju di tangga beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Presiden Joko Widodo resmi melantik 34 Menteri, 3 Kepala Lembaga Setingkat Menteri, dan Jaksa Agung untuk Kabinet Indonesia Maju. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

“Saya ingin ada perubahan budaya terutama budaya yang menghalangi layanan publik dan mengubah budaya feodalistik. Tak mudah memang, saya juga pernah merasakannya saat menjabat Kapolri,” ungkap Tito saat ditemui di Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Kamis (24/10/2019).

Ia pun membandingkan perbedaan antara di Polri dan Kemendagri.

“Di Polri kami mengubah budaya pada lingkup lebih luas dan lebih banyak orang yaitu sampai 450 ribu, di Kemendagri lebih kecil, tapi kami juga harus melakukan pembinaan kepada pemerintah daerah, itu bedanya,” jelas Tito.

Ia menjelaskan bahwa di Kemendagri berbeda dengan Polri. Sebagai Mendagri Tito harus melakukan pembinaan kepada pemerintah daerah namun dengan batasan-batasan sesuai regulasi otonomi daerah.

“Kami ingin mengubah mindset pemda jangan jadi penguasa tapi sebagai pelayan masyarakat, itu yang susah,” lanjutnya.

Baca : Besok 25 Oktober CPNS 2019 Buka di sscasn.bkn.go.id, Ini Tahapan & Peryaratan, 40 Tahun Bisa Daftar

Baca : Tak Kunjung Ditelepon Jadi Menteri Apa, Luhut Ternyata Sempat Protes, Begini Jawaban Enteng Praktino

Sebagai Mendagri baru, Tito mengaku akan melanjutkan program Mendagri sebelumnya sebagai langkah jangka pendek sembari mengenal lebih dekat dan menjalin hubungan lebih dekat dengan pejabat serta aparatur sipil negara di lingkungan Mendagri dan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP).

“Bagi saya kerjakan saja dulu yang sudah dijalankan, sembari saya mengenal secara formal apa saja yang perlu dilakukan. Serta membangun hubungan personal dengan rekan-rekan di Kemendagri. Hubungan personal bisa menembus perbedaan-perbedaan yang formal,” pungkasnya.

Penulis: Rizal Bomantama
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved