Era Mobil Listrik di Indonesia Mendapat Perhatian Besar di Jepang
Kesiapan Indonesia menyambut era mobil listrik mendapat perhatian besar di Jepang.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kesiapan Indonesia menyambut era mobil listrik mendapat perhatian besar di Jepang.
Baru-baru ini profesional muslim Indonesia di Jepang (Promia) mengadakan diskusi bertemakan "Indonesia menyambut era mobil listrik" dengan tiga narasumber masing-masing Aisar Labibi Romas (Konsultan Otomotif di perusahaan Optimal+), Ricky Elson (Penggiat dan Teknokrat Mobil Listrik Indonesia), dan Dr Muhammad Aziz (Associate Professor di Universitas Tokyo).
Di sesi pertama Aisar Labibi Romas menjelaskan tentang industri otomotif di Indonesia dan kesiapannya di era mobil listrik.
"Di tahun 2018, Indonesia memproduksi 1.3 juta mobil (terbesar ke-6 di Asia Pasifik). Tetapi angka ini bukanlah pelaku utama banyaknya fenomena kemacetan di kota-kota besar di Indonesia mengingat tidak semua mobil yang diproduksi di Indonesia dipasarkan di Indonesia. Faktor besar lain adalah kurangnya infrastruktur jalan raya di kota-kota besar," ungkap Aisar.
Meskipun banyak yang bilang kalau bisnis otomotif lebih banyak dipegang asing dibanding dengan dalam negeri, sebenarnya kepemilikannya sekitar 50:50.
Contoh adalah Toyota dan Daihatsu berpartner dengan perusahaan Indonesia Astra menjadi Toyota Astra Motor dan Astra Daihatsu Motor.
Mobil yang diproduksi di Indonesia dilaporkan memiliki suku cadang lokal antara 30 - 90 persen.
Salah satu produsen baterai terkemuka di Indonesia, CBI (Century Batteries Indonesia), semua design, pengerjaan, pekerja, semuanya adalah dari orang atau buatan Indonesia.
Masuk ke industri mobil listrik, tantangan terbesar bagi Indonesia untuk memulai Industri ini adalah:
- mobil listrik lebih mahal rata-rata Rp 150 juta dari mobil gasoline;
- investasi yang sangat besar untuk RnD dan manufaktur;
- permintaan yang belum terbukti dari pasar (dipengaruhi oleh harga minyak, dll)
- dukungan dari pemerintah
Namun demikian dari semua tantangan itu, Indonesia sudah mulai berprogres menuju perkembangan yang positif.
Baca: Rela Dipoligami, Seorang Guru di Makassar Ikhlas Nikahkan Suaminya dengan Wanita Lain
Baca: Air-2, Airpod Bluetooth dengan Teknologi Nirkabel Terbaru dari D-Power
Yang pertama adalah mulai membesarnya perhatian publik berkat suksesnya kampanye mobil listrik yang diadakan oleh menteri kabinet Dahlan Iskan pada tahun 2012-2013, dan armada mobil listrik yang dimulai oleh perusahaan taksi Bluebird di Jakarta.
Yang kedua adalah dimulainya proyek pembangunan pabrik baterai Lithium di Morowali, Sulawesi Tengah, yang akan dibiayai oleh investor dari KorSel, Jepang, dan Cina sebesar 4 miliar USD.
Progres ketiga didukung oleh kebijakan dan insentif yang menargetkan bahwa mobil listrik produksi dalam negeri harus menggunakan sampai 80 persen suku cadang buatan lokal sampai tahun 2030.
Dan yang terakhir adalah kesiapan produksinya itu sendiri.
"Astra group telah menyatakan kesediaan untuk mengganti produksi mobil gasolin ke mobil listrik secara bertahap, meskipun Indonesia masih sangat bergantung pada bahan impor seperti baja bermutu tinggi, aluminium, plastik-resin, dan magnet untuk motor elektrik."
"Indonesia memang terlambat dalam memulai Industri mobil listrik ini. Meskipun demikian lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," kata Aisar.
Sesi kedua dilanjutkan oleh Ricky Elson yang bertemakan "Tantangan pengembangan kendaraan listrik di Indonesia".
Sesi ini dimulai oleh tantangan kepada para profesional yang akan menjadi penggerak generasi sekarang, apakah kita baik-baik saja hanya menjadi "generasi unboxing" yang artinya hanya menerima barang, dan merasa puas dengan hal itu.
Ricky yakin bahwa dengan kemauan yang kuat, mobil listrik dapat dibuat oleh beberapa orang saja, mulai dari design sampai menjadi produk nyatanya.
"Saya ingin bercerita ketika sya dan tim mendapatkan tantangan dari Prof Hayashi dari Tokai University, untuk mengikuti kompetisi Le Mans 24, dengan syarat bagaimana memasukkan elektrik motor ke dalam ruang mesin untuk membuat teknologi Super Hybrid," ungkap Ricky mengenang masa lalunya.
Dari situlah dimulainya perjalanan Ricky menggeluti dunia mobil listrik.
Baca: 3 Hari Temani dan Peluk Jasad Sang Ibu, Balita Perempuan Berusia 2 Tahun Kini Didampingi Psikiater
Baca: Memprihatinkan! Kekurangan Kelas, Siswa di Lebak Belajar Menumpang di Gedung Warga
Ricky juga mengiyakan pernyataan Aisar mengenai saham dalam negeri industri mobil di Indonesia ada di angka 50:50 dibanding dengan saham asing.
"Tetapi kita masih kekurangan orang yang terlibat sebagai penggerak di bidang kendaraan listrik," kata dia.
Untuk menumbuhkan generasi penggerak, maka harus mulai mengajak anak muda untuk berkecimpung, dengan cara mengenalkan mobil listrik dengan konsep yang sangat simpel seperti.
Misalnya mobil listrik tamiya yang bisa dikendarai.
Karena komponen Tamiya kurang lebih sama dengan mobil listrik berupa gear box, battery socket-battery, motor penggerak, brushed DC motor.
Ketika ketertarikan itu sudah ada, maka mulailah tantang anak muda Indonesia dengan cara, “Daripada berdebat harganya mahal, baterai yang tidak tahan lama, lebih baik fokus pada bagaimana mengurangi biayanya, mengecilkan ukuran mesinnya, menaikkan efisiensi, dan sebagainya," ujarnya.
Berbeda dengan mesin mobil, yang sampai hari ini meskipun kita sudah merakitnya, kita tidak dapat kesempatan untuk membuatnya, tapi untuk motor listrik, kita pasti bisa.
"Karena komponen motor listrik hanyalah besi, tembaga, magnet dan insulator. Bagi kita inilah tantangan ilmu pengetahuan, tantangan manusia untuk mengejar batasnya sampai di mana bisa maju, dengan keadaan yang terbatas."
Selanjutnya Ricky menceritakan mengembangkan mobil listrik Selo di Indonesia dengan Dahlan Iskan, yang tidak selalu lancar, karena ketika test drive di jalanan mengalami kecelakaan.
Pada saat itu, segala perjuangan seakan hilang karena pada akhirnya hanya dianggap kriminal karena dianggap seharusnya dilakukan uji kelayakan dulu sebelum dibawa ke jalan raya.
Tapi pada saat itu karena keterbatasan biaya, dia tidak ada pilihan lain. Pada saat itu yang dia punya hanyalah semangat dan harga diri.
Prinsipnya adalah selalu syukuri dan optimalkan segala hal yang dimiliki.
Baca: Sebelum Tertangkap, Finalis Putri Pariwisata Ternyata Sudah 3 Kali Ditawarkan ke Pria Hidung Belang
Baca: Formasi CPNS 2019: Tak Beri Tempat Tenaga Administrasi, Guru Terbanyak
Setelah itu Selo dibawa ke KTT APEC, dan dilakukan ujicoba bersama kemenristek.
Meskipun relatif tanpa hambatan, tapi tetap saja reaksi media tetap tidak mendukung.
Namun lagi-lagi dia tidak merasa itu sebagai alasan untuk menyerah.
Harapannya bukanlah untuk membuat pabrik mobil listrik, melainkan ingin mengajak generasi muda untuk ikut serta dalam pengembangan kendaraan listrik di Indonesia, supaya bangsa kita tidak lagi menjadi sekedar generasi unboxing.
Meskipun dengan ranah terbatas, dia telah memulai proyek Selo generasi ke-2 dimulai dengan partner baru.
Selo kedua ini dengan teknologi dan design yang di-upgrade.
Pesan terakhir dari Ricky, bahwa mobil listrik Selo hanyalah ikon.
Tujuan utama proyek Ricky adalah untuk mengajak generasi muda Indonesia agar ikut serta dalam membangun peradaban teknologi di dunia.
"Dimulai dari kita, mengajak sebanyak mungkin generasi baru dalam semangat Spirit of enjoyneering."
Sesi ketiga dilanjutkan oleh Dr Muhammad Aziz dengan tema "Tren mobil listrik dan Teknologi vehicle-to-grid (V2G/VGI)"
Azis menceritakan tentang tren market EV di Jepang belum signifikan, permasalahannya karena Toyota dan Honda masih sangat dominan ke bisnis fuel cell vehivle (FCV) nya.
Di sisi lain Nissan dan Mitsubishi sudah memulai pengembangan mobil listriknya.
"Jadi pemerintah dalam hal pembuatan kebijakannya masih belum bisa berfokus pada hanya satu sisi saja (antara fuel dan listrik)," ungkap Azis.
Baca: Dua Pilot Bagikan Pengalamannya Selamat saat Lewati Segitiga Bermuda
Baca: Sparta, Anjing Belgian Malinois Mati Karena Sakit, Begini Curahan Hati Bima Aryo
Masalah terbesar mobil listrik adalah waktu untuk charging, sekarang masih membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Sedangkan yang kita inginkan adalah kecepatan charging yang bisa menyaingi kecepatan ketika mengisi bahan bakar.
Tesla sedang berusaha mengembangkan teknologi untuk mempersingkat waktu pengisian ini.
Semua perusahaan pembuat mobil berkomitmen agar semua mobil berpindah ke EV sampai tahun 2020-2030.
Toyota sebagai automaker terbesar memegang peran penting dalam bisnis konversi ini.
Dari segi kebijakan negara, beberapa negara pun sudah memiliki target untuk mengurangi emisi dari kendaraan berbahan bakar.
Contoh Norwegia menargetkan emisi nol pada tahun 2025.
India akan berpindah ke EV sampai tahun 2030 dan Denmark akan melarang penjualan mobil berbahan bakar gas dan diesel sampai tahun 2030.
"Contoh untuk kasus Denmark, mereka tidak punya power storage. Mereka memilih untuk langsung mengadopsi mobil listrik, dan menyerahkan kepada market untuk memutuskan apakah mereka akan menjadi produser atau konsumer listrik."
Masuk ke pembahasan tentang VGI (Vehicle-Grid Integration). VGI adalah teknologi di mana kendaraan listrik (vehicle) dapat menyediakan daya ke jaringan (grid) dalam menanggapi tuntutan peak load.
Tergantung pada permintaan, EV dapat mengisi (charge) atau mengeluarkan (discharge) daya. Oleh karena itu, EV dapat dilihat sebagai perangkat penyimpanan raksasa.
Baca: Suhu Panas di Indonesia, Coba 3 Es Legendaris di Malang Ini
Baca: Prakiraan Cuaca BMKG di 33 Kota Besok, Rabu 30 Oktober 2019: Medan Waspada Hujan Sepanjang Hari
Mobil listrik sudah memiliki koneksi wireless, jika ada operator yang disebut agregator, maka kita bisa mengkoneksi semua mobil listrik menjadi satu baterai yang besar.
Teknologi agregator dapat melihat potensi daya yang mereka punya, mem-bidding, dan menjual listrik dari mobil listrik yang ada.
Bisa disambungkan ke rumah dan tempat lain, tergantung chargernya tersambung ke mana.
"Tetapi masalahnya jika melakukan bisnis VGI sekarang masih tidak menguntungkan, karena pajak akan diambil pada saat charge dan discharge."
Oleh karena itu ajuan dari Aziz dan timnya adalah bagaimana supaya pajak diambil secara total, pada saat jual beli listrik terjadi di akhir, tergantung keuntungan yang didapat.
Tantangan bagi Indonesia di bisnis VGI ini adalah tingginya beban listrik pada saat puncak (jam 5 sore-10 malam). Kemudian masih rendahnya kualitas listrik dan kapabilitas penyeimbangannya dan tidak adanya energy storage, dan lainnya.
Seminar kali ini ditutup dengan sesi tanya jawab dengan para narasumber.
"Indonesia belum punya resource untuk membangun energy storage. Hanya bisa bikin baterai dulu. Jika Indonesia nekat untuk membuat storage, belum tentu kita bisa menyelesaikannya meskipun menyerahkannya ke swasta. Sebagai perbandingan, Jepang pun masih menggunakan generator untuk menyeimbangkan supply dan demand nya. Ditambah costnya yang sangat mahal," ungkap Azis lagi.
Sementara Aisar mengungkapkan adanya pengaruh unsur market untuk produksi kendaraan kecil.
"Dari segi industri, tergantung ada apa tidaknya market dan seberapa mahal harganya. Apakah akan lebih murah jika dibanding dengan bajaj/angkot dengan tenaga BBM," ungkap Aisar.
Sedangkan Ricky kepada Kesiapan kelistrikan Indonesia yang menurutnya masih jauh dari siap.
"Tapi kita bisa mempersiapkan SDM selama 10 tahun ke depan ini. Kita tidak perlu unggul di bagian produksinya, tapi ambil bagian di bagian maintenance dan pengelolaannya. Maka dari itu diperlukan SDM yang bisa mengusulkan ke pemerintah untuk melegalkan Undang-Undang membolehkan konversi mobil listrik," menurut Ricky.
Baca: Panduan Lengkap Wisata ke Penang, Jelajah Chinatown yang Mengapung
Baca: Suhu Panas di Indonesia, Coba 3 Es Legendaris di Malang Ini
GRAB sudah mulai bisnis startup di kendaraan listriknya, oleh karena itu sebenarnya sudah tersedia peluang-peluang jika ada peserta yang mulai berpikir untuk memulai bisnis startup konversi listrik.
"Konversi listrik adalah bisnis yang sangat menarik, idenya sederhana. Tapi tetap harus memikirkan tentang keamanannya," ungkap Aisar.
Ricky juga memberikan tips untuk memulai industri mobil listrik di Indonesia.
"Startup itu pemicu jiwa entrepreneurship. Yang penting ada ide dulu, yakin, realisasikan. Beliau memberi saran kepada penanya yang masih berumur 25 tahun untuk persiapkan ide sematang-matangnya dan kumpulkan rekan visioner sebanyak-banyaknya sampai umur 30 tahun, dan wujudkan bersama mereka ke depannya," kata Ricky.
Sedangkan Azis mengungkapkan, "Sambil mempersiapkan ide bisnis, bisa cari kesempatan venture dari kampus. Jangan hanya liat kampus sebagai tempat research, tapi juga kesempatan venture. Beberapa kampus menyumbang 30 persen bahkan sampai 100 persen," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/suasana-diskusi-mobil-listrik-indonesia.jpg)