Inilah Saran Wamendikbud Zaman SBY kepada Nadiem Makarim

Wakil Menteri Pendidikan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Fasli Jalal, menilai perombakan atau evaluasi kurikulum merupakan langkah yang w

Inilah Saran Wamendikbud Zaman SBY kepada Nadiem Makarim
Fahdi Fahlevi/Tribunnews.com
Fasli Jalal 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, untuk merombak kurikulum.

Wakil Menteri Pendidikan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Fasli Jalal, menilai perombakan atau evaluasi kurikulum merupakan langkah yang wajar untuk menjawab kebutuhan zaman.

Namun Fasli menyarankan agar Nadien melihat dulu akar masalah pada kurikulum pendidikan saat ini.

"Artinya kalau kurikulum kan biasa secara reguler dievaluasi ya itu biasa sesuai dengan kebutuhan. Biasanya kalau kita melakukan evaluasi berarti harus ada data-data dulu apa yang bermasalah, apakah keluasan dari kurikulum itu," ujar Fasli di Hotel Millenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (5/11/2019).

Baca: Jokowi Jangan Jadikan Posisi Dewan Pengawas KPK Barter untuk Koalisi Pendukungnya

Rektor Universitas Yarsi ini menyoroti masalah pengajaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung) pada anak sejak taman kanak-kanak (TK).

Dirinya berharap kurikulum yang baru tidak mewajibkan anak untuk belajar calistung sejak (TK).

"Anak sudah harus pandai membaca menulis berhitung di semester awal dan itu kesalahan yang cukup fatal. Kita tidak boleh memaksa di TK, itu anak sudah calistung," tutur Fasli.

Dirinya menyebut pengajaran calistung sejak anak di bangku TK hanya dapat membentuk kemampuan menghafal.

Padahal menurutnya, penanaman pemahaman bagi anak sejak dini yang lebih penting dibanding memberikan pembelajaran mengenai calistung.

"Dia bisa saja dipaksa dengan calistung tapi dia tidak paham. Padahal pemahamannya yang penting. Dia hanya bisa menghafal, menghafal adalah kecerdasan yang paling bawah," ungkap Fasli.

Pembelajaran mengenai calistung, menurut Fasli, sebaiknya diajarkan saat anak memasuki kelas 1 sekolah dasar (SD).

Baca: Terdakwa Kasus Ancaman Penggal Jokowi Didakwa Pasal Makar

Selain itu, dirinya menyarankan agar buku pelajaran serta ujian yang diberikan kepada murid SD tidak menggunakan perbendaharaan bahasa yang terlalu banyak.

"Yang perlu disempurnakan itu, berikan pembelajaran yang baik agar calistung itu dilaksanakan di kelas 1 SD dan jangan bukunya, bacaannya ujiannya sudah berbahasa yang terlalu banyak," pungkas Fasli.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved