Rumah Nawacita Minta Jokowi Batalkan Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Kelas 3

Rumah Nawacita menilai ada banyak opsi lain yang lebih tepat, ketimbang langsung menaikkan iuran begitu saja.

Rumah Nawacita Minta Jokowi Batalkan Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Kelas 3
HANDOUT
Direktur Eksekutif Rumah Nawacita, Raya Desmawanto M.Si 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komunitas mantan relawan Jokowi yang terhimpun dalam Rumah Nawacita meminta agar Presiden Jokowi membatalkan kenaikan iuran BPJS Kesehatan untuk kelas 3.

Iuran kepesertaan BPJS Kesehatan kelas 3 kini dipatok sebesar Rp 42 ribu per orang anggota keluarga dan mulai berlaku per 1 Januari 2020.

Direktur Eksekutif Rumah Nawacita, Raya Desmawanto M.Si menyatakan, desakan itu berasal dari suara akar rumput yang menilai kenaikan mencapai 100 persen tersebut memberatkan ekonomi rakyat khususnya segmen keluarga ekonomi bawah.

"Kami berharap Presiden Jokowi mempertimbangkan untuk segera membatalkan kenaikan iuran BPJS Kesehatan kelas 3. Ini belum terlambat dan pembatalan ini amat diharapkan oleh masyarakat akar rumput yang masih hidup pas-pasan," ujar Raya Desmawanto M.Si dalam keterangan persnya, Kamis (7/11/2019).

"Pembatalan kenaikan yang kita minta hanya berlaku untuk peserta kelas 3," tegasnya.

Raya Desmawanto menambahkan, Presiden Jokowi semestinya tidak menerima begitu saja alasan dan usulan dari para staf dan menteri terkait yang mengusulkan kenaikan iuran BPJS Kesehatan untuk menutupi defisit keuangan BPJS Kesehatan.

Seharusnya, kondisi ekonomi masyarakat lapisan bawah yang masih hidup pas-pasan harus menjadi perhatian utama dan tekor kas BPJS Kesehatan bisa dilakukan lewat kebijakan dan langkah-langkah lainnya yang lebih substantif.

"Jadi, kami pikir menaikkan iuran BPJS Kesehatan khususnya kelas 3 mencapai 100 persen bukan opsi yang tepat untuk menutupi tekor kas BPJS Kesehatan," ujarnya.

Ada banyak opsi lain yang lebih tepat, ketimbang langsung menaikkan iuran begitu saja.

"Kami menilai, masukan dari staf dan pembantu presiden hanya ingin main gampang dan instan saja, tapi efeknya bisa melukai hati rakyat," bebernya.

Halaman
12
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved