Eksklusif Tribunnews

Dewi Tanjung: KPK Milik Negara Bukan Milik Novel Baswedan

Laporan itu dibuat ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya. Upaya pelaporan itu bukan pertama kali

Dewi Tanjung: KPK Milik Negara Bukan Milik Novel Baswedan
Kolase Kompas.com/Kompas TV
Dewi Tanjung dan Novel Baswedan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-NamaDewi Tanjung belakangan ini ramai diperbincangkan. Politisi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan itu menjadi pembicaraan, karena melaporkan penyidik KPK, Novel Baswedan, telah merekayasa insiden penyiraman air keras ke wajahnya.

Laporan itu dibuat ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya. Upaya pelaporan itu bukan pertama kali yang dilakukan oleh Dewi Tanjung.

Sebelumnya, dia pernah melaporkan advokat Eggy Sudjana, mantan ketua MPR RI, Amien Rais, ulama, Bachtiar Nasir, tokoh Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, dan warga masyarakat, Lisa Amartatara. Novel Baswedan, merupakan orang keenam yang dilaporkannya kepada aparat kepolisian.Lantas, apa yang menjadi alasan melaporkan Novel dan siapa Dewi Tanjung?

Berikut wawancara ekslusif Tribun dengan Dewi Tanjung, Minggu (10/11).
Apa latar belakang sampai akhirnya melaporkan Novel Baswedan kepada aparat kepolisian?
Dewi Tanjung: Tidak ada yang melatarbelakangi. Itu, cuma rasa empati kepada kasus ini. Di awal saya simpati, empati saya tinggi sama Novel Baswedan. Bisa dilihat di status-status saya membela dia.

Mengutuk keras. Kenapa saya sampai seperti ini? Saya melihat masyarakat itu gaduh dan timbul kecurigaan. Kegaduhan di masyarakat, karena ketidakjelasan kasus hukum ini. Dari situ saya mulai mempelajari. Saya pelajari.

Baca: Harris Azhar: Dewi Tanjung Tak Punya Professional Standing Komentari Kasus Novel Baswedan

Timbul kegaduhan di masyarakat soal insiden penyiraman Novel Baswedan yang tidak kunjung terungkap. Masyarakat mana yang gaduh?
Dewi Tanjung: Bisa dilihat di media sosial. Di media sosial itu juga banyak yang tidak percaya kasus ini. Dan, mereka butuh kepastian. Mereka butuh kepastian.

Sempat menaruh empati kepada Novel Baswedan, karena mengalami penyiraman air keras?
Dewi Tanjung: Di media sosial di Facebook saya dua tahun yang lalu. Jadi empati saya tinggi. Di saat dia berjuang memberantas korupsi, tiba-tiba mendapat perlakuan ini.

Berawal dari rasa empati, lalu, malah balik melaporkan Novel Baswedan, karena menilai ada kejanggalan. Kejanggalan seperti apa?
Dewi Tanjung: Saya melihat ada rekaman CCTV yang di rilis oleh Tempo. Saya perhatikan di situ, pernyataan awal Novel Baswedan situasi di situ sepi tidak ada orang, tetapi di dalam rekaman CCTV ternyata ada dua orang memakai mukena. Lalu, saya pelajari di berita-berita yang beredar bahwa pelaku itu memakai mug atau cangkir karena ditemukan oleh tim labfor ada cangkir kaleng di lokasi.

Saya pelajari, akhirnya saya peragakan sendiri cangkir dengan botol lebih mana efek air itu keluar ternyata cangkir. Sekarang kita berlogika, apabila kita pegang cangkir lalu naik motor, motor tidak pelan-pelan banget loh itu agak sedikit kencang.

Pasti begitu dia siram itu air tumpahan akan semua keluar dari cangkir dan mengenai wajah. Lalu, saya kan menghitung jarak dia terkena itu di lempar air keras. Jadi, maksud saya itu di situ saya mulai bingung.

Halaman
1234
Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Rachmat Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved