Breaking News:

Sejak 2015, Mafindo Sudah Tangani 3.000 Lebih Kasus Hoaks di Indonesia

Sejak 2015 Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Sudah Menangani 3.000 Lebih Kasus Hoaks di Indonesia

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Aktivis yang tergabung dalam Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) membentangkan poster yang berisi penolakan penyebaran berita bohong (hoax). 

TRIBUNNEWS.COM - Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) telah mengungkap 3.000 lebih kasus hoaks dan memuatnya di situs laman turnbackhoax.id.

Situs laman tersebut dibuat Mafindo agar masyarakat dapat dengan mudah mengakses klarifikasi dari berita hoaks.

Bekerjasama dengan jurnalis di cekfakta.com, Mafindo dan jurnalis melakukan verifikasi berita hoaks.

Selain itu Mafindo juga melakukan edukasi publik melalui training dan workshop ke berbagai daerah untuk melawan bahaya hoaks.

turn back hoax
desktop situs laman turnbackhoax.id

"Siapapun yang bersedia membuka pintu untuk kami, biasanya kami bersedia untuk melakukan training-training ini (melawan hoaks), dan tidak ada biaya sama sekali yang perlu dikeluarkan komunitas manapun," kata Anita Wahid Presidium Mafindo saat diwawancarai Tribunnews di Kegiatan Stop Hoax Festival, Minggu (10/11/2019) di Yogyakarta.

Selain bekerjasama dengan jurnalis, sejak Pilpers 2019, Mafindo bekerjasama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Mafindo juga mendapatkan dukungan dari pemerintah, meskipun begitu Mafindo tidak menerima uang dari pemerintah untuk menjaga kenetralan Mafindo.

Menurut Anita, adanya komunitas ini untuk mengurangi pengaruh hoaks yang sudah mengendap dimasyarakat.

Ilustrasi hoaks
Ilustrasi hoaks (Thinkstock)

"Dampak negatif yang paling berat dari hoaks adalah polarisasi. Bertepatan dengan Pilpers tahun ini, ujaran kebencian dan berita hoaks meningkat dan memecah belah masyarakat," kata Anita.

Polarisasi membuat masayarakat hanya mempercayai dan mendengar kelompoknya sendiri.

Akibatnya, masyarakat yang termakan hoaks menjadi tidak bisa mengkritisi berbagai macam hal, dan tidak dapat mempunyai pandangan netral yang diperlukan untuk kebaikan bangsa Indonesia.

Masyarakat cenderung akan berpikir segala hal yang tidak sepaham dengan kelompoknya dianggap menyerang kelompoknya dan menyebabkan kebencian pada kelompok lain.

Dididirikan secara resmi pada 19 November 2016, namun Mafindo sudah mulai menangani kasus hoaks sejak 2015.

Anita mengungkapkan sejak 2015 hingga 2019, berita hoaks semakin meningkat setiap tahunnya.

Menurut keterangan Putri ketiga Gus Dur tersebut, sebaran hoaks yang awalnya hanya 10 hoaks per bulan di 2015 kini meningkat hingga 100 hoaks per bulan di 2019.

Presidium Mafindo, Anita Wahid
Presidium Mafindo, Anita Wahid (TRIBUNNEWS.COM/RICA AGUSTINA)

Berdasarkan data berita hoaks yang telah Mafindo tangani, pada 2015 rata-rata penyebaran hoaks yakni 10 hoaks perbulan.

Pada 2016 meningkat hampir tiga kali menjadi 27 hoaks perbulan.

Bertepatan dengan kasus di Pilkada DKI dan kasus Rohingya pada 2017, berita hoaks meningkat menjadi rata-rata 58 hoaks perbulan.

Pada 2018, hoaks meningkat menjadi rata-rata 87 hoaks perbulan, karena bertepatan dengan momen Pilkada serentak beberapa daerah di Indonesia.

"Di tahun 2019 yang belum selesai ini, hoaksnya rata-rata sudah 100 hoaks perbulan bahkan lebih, meningkat signifikan seiring banyaknya media informasi dan bertepatan dengan momen Pemilu 2019," papar Anita.

Profil Mafindo

Mafindo merupakan organisasi masyarakat sipil yang didirikan pada 19 November 2016.

Program yang dilakukan Mafindo yakni melawan hoaks.

Dilansir dari wikipedia, hoaks adalah berita palsu atau berita bohong berupa rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, teteapi disebarkan atau diinformasikan sebagai kebenaran.

Berita hoaks mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang lain dengan tujuan tertentu.

Selain itu hoaks juga tidak mempunyai landasan faktual, umumnya disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta.

Di Indonesia, berita hoaks semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Maraknya penyebaran berita lewat media sosial, yang terkadang berita tersebut tidak memiliki sumber kredibel menyebabkan masyarakat mudah terkena virus hoaks.

Komunitas Mafindo sudah tersebar di seluruh Indonesia dan mendapatkan dukungan dari pemerintah.

Relawan Mafindo terdiri dari berbagai latar belakang, di antaranya; Mahasiswa, Guru, Dosen, Artis, Pegawai Swasta, Ibu Rumah Tangga.

Sekitar 12 dari 17 Koordinator Wilayah adalah perempuan dan Per Agustus 2019, jumlah relawan tercatat 528 orang yang tersebar diberbagai wilayah.

Cara untuk menjadi relawan, yakni degan registrasi di situs laman Mafindo (mafindo.or.id).

Tidak ada syarat dan ketentuan khusus untuk menjadi relawan, yang menjadi tolok ukur yakni motifasi dari calon relawan apakah sesuai ketentuan dari Mafindo atau tidak.

Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menggelar Deklarasi.
Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menggelar Deklarasi. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN)

Visi Misi Mafindo tercantum di situs laman resminya.

Visi dan Misi Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo)

Visi

1. Menjadi organisasi masyarakat yang independen dan dinamis yang berpartisipasi aktif untuk mencerahkan dan mengembangkan kemampuan publik untuk berpikir kritis.

2. Meningkatkan kewaspadaan publik terhadap bahaya hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi.

3. Mewujudkan masyarakat sipil yang aktif, damai, dan sejahtera.

Misi

1. Bekerjasama dengan pihak lain dalam upaya memerangi hoaks dan ujaran kebencian.

2. Mengembangkan organisasi yang kuat, kredibel, dan akuntabel untuk mencapai tujuannya.

3. Menggabungkan semua aspek sosial positif untuk menciptakan masyarakat yang terdidi dan anti-hoaks.

(Tribunnews.com/Rica Agustina)

 

Penulis: Rica Agustina
Editor: Ayu Miftakhul Husna
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved