Bom di Mapolrestabes Medan

Libatkan Perempuan dan Anak-Anak, Pengamat Sebut Aksi Teror Indonesia Contoh ISIS

Pengamat Gerakan Islam itu mengatakan faktor lain dilibatkannya perempuan dan anak-anak dalam aksi teror dikarenakan

Libatkan Perempuan dan Anak-Anak, Pengamat Sebut Aksi Teror Indonesia Contoh ISIS
TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Polisi berjaga di depan gedung Mapolrestabes Medan pascabom bunuh diri yang dilakukan seorang pemuda, di Medan, Sumatera Utara, Rabu (13/11/2019). Akibat peristiwa tersebut pelaku tewas dan enam orang mengalami luka-luka, empat diantaranya personel kepolisian. 

 Laporan Wartawan Tribunnews.com Larasati Dyah Utami

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat Gerakan Islam dari UIN Jakarta, M. Zaki Mubarak menjelaskan kasus teror yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia salah satunya mencontoh apa yang dilakukan ISIS diluar negeri.

Termaksud diantaranya melibatkan perempuan dan anak-anak dalam melakukan serangkaian aksi teror dalam keadaan terdesak.

"Apa yang dilakukan di Indonesia punya referensi dari Suriah. Misalnya kejadian Thamrin itu menyontoh serangan ISIS di Perancis" ujarnya, Sabtu (16/11/2019).

"Ketika di Suriah dan Irak, kelompok jihadis menggunakan perempuan dan anak-anak untuk melaksanakan aksi amaliah bom bunuh diri, maka disini juga dicontoh. Dari segi ideologi mereka merujuk kesana" lanjutnya

Pengamat Gerakan Islam itu mengatakan faktor lain dilibatkannya perempuan dan anak-anak dalam aksi teror dikarenakan kurangnya sumber daya karena banyaknya aktivis laki-laki yang masuk penjara dan tewas.

Baca: Maruf Amin Jadi Koordinator Penanggulangan Radikalisme & Terorisme, Ini Kata Tito Karnavian

Hal tersebut menjadikan kelompok teror menggunakan sumber daya yang siap, termaksud mengajak perempuan dan anak-anak untuk melaksanakan aksi teror.

"Karena kekurangan sumber daya, maka mereka melakukan justifikasi melalui ayat Alquran, perempuan dan anak-anak itu boleh dikerahkan untuk jadi jihadis mati syahid" ujarnya.

Zaki juga menyebut terlibatnya perempuan dan anak-anak menjadi strategi yang sederhana dan juga efektif untuk melakukan serangan teror, karena menurutnya anak-anak dan perempuan sulit terdeteksi oleh aparat.

"Anak-anak dan perempuan itu sulit dideteksi, karena aparat keamanan tidak memantau dan tidak menganggap mereka sebagai orang yang potensial melakukan aksi jihad" lanjutnya

Editor: Fajar Anjungroso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved