Aklamasi Dinilai Hilangkan Tradisi Demokrasi di Golkar

Djafar mengatakan Golkar yang memakai sistem Konvensi pertama kali dalam menentukan pilihan calon Presiden.

Aklamasi Dinilai Hilangkan Tradisi Demokrasi di Golkar
Istimewa
Rapimnas Partai Golkar di Hotel Ritz Charlton pada Rabu (14/11/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Seluruh kader Golkar diharapkan sadar sebelum partai benar-benar menuju kehancuran.

"Karena hancurnya Partai Golkar jika kembali ke pola-pola era masa lampau yang sudah ditinggalkan, majunya Partai Golkar di tangan kadernya itu sendiri, bukan oleh orang luar atau lain," kata Djafar Ruliansyah Lubis, Wakil Sekretaris Badan Kajian Strategis dan Intelijen Partai Golkar, Minggu (17/11/2019).

Baca: Ketua DPD II Golkar Aceh Selatan Teuku Mudasir: Kita di Daerah tak ingin Aklamasi

Baca: Pengamat: Aklamasi Saat Munas Golkar Tidak Salah, Tapi. . . .

Dia menyoroti sistem aklamasi yang diwacanakan sejumlah internal Golkar di Munas nanti.

"Jadi hentikan dan janganlah lagi kita gunakan mekanisme pola era Orde Baru. Sejak reformasi Golkar-lah cerminan politik demokrasi yang sesungguhnya dipertontonkan pada seluruh rakyat Indonesia," katanya.

Dia mengatakan Golkar yang memakai sistem Konvensi pertama kali dalam menentukan pilihan calon Presiden.

"Golkar lah yang pertama kali mempertontonkan pada rakyat Indonesia soal demokrasi pemilihan pemimpin partainya dengan meninggalkan pola jadul sistem aklamasi," katanya.

Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved