Pengamat Sebut Tiga Alasan Pesimistis Kasus Novel Terungkap Meski Jokowi Tagih ke Kapolri

Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan memanggil Kapolri Jenderal Pol Idham Azis terkait pengungkapan penyiraman air keras terhadap

Pengamat Sebut Tiga Alasan Pesimistis Kasus Novel Terungkap Meski Jokowi Tagih ke Kapolri
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menggunakan kursi roda saat akan dibawa ke RS Jakarta Eye Center dari RS Mitra Kekuarga, Kelapa Gading, Jakarta, Selasa (11/4/2017). Novel Baswedan dipindahkan ke RS Jakarta Eye Center untuk menjalani perawatan lanjutan usai dirinya mengalami serangan fisik dari orang tak dikenal dengan menggunakan cairan yang diduga air keras yang membuat Novel Baswedan mengalami luka serius di sekitar wajah. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan memanggil Kapolri Jenderal Pol Idham Azis terkait pengungkapan penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan, awal pekan depan.

Pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio mengaku pesimistis meski pertemuan antara Jokowi dan Idham digelar untuk membahas kelanjutan kasus tersebut. Ada tiga alasan terkait sikap pesimistis Hendri.

"Pertama, pertemuan seperti ini (membahas kasus Novel) sudah sering dilakukan sebelumnya antara Presiden dan Kapolri walaupun saat ini pejabatnya beda," ujar Hendri, ketika dihubungi Tribunnews.com, Sabtu (7/12/2019).

Alasan kedua adalah fakta dimana kasus tersebut tidak mengganggu elektabilitas Jokowi dalam Pilpres 2019. Dimana Jokowi menjanjikan akan mengungkap pelaku kasus tersebut dengan memerintahkan Kapolri terdahulu yakni Jenderal Pol (Purn) Tito Karnavian.

Baca: Minta Pelayanan Rumah Sakit Ditingkatkan, Jokowi: Menkes Sampaikan Sudah Ketemu Jurusnya

Baca: Tanggapi Langkah Menteri BUMN Erick Thohir Pecat Dirut Garuda Indonesia, Jokowi: Jangan Main-main!

Baca: Ahmad Basarah: Mensesneg Harus Lebih Efektif Berkoordinasi dengan Publik dan MPR

"Kedua, secara politis kasus ini terbukti tidak mengganggu elektabilitas Presiden Jokowi yang kembali terpilih sebagai presiden," kata dia.

Sementara alasan terakhir Hendri yakni aparat sendiri tidak bertindak meski ada banyak orang yang meragukan kasus penyerangan terhadap Novel. Salah satunya adalah Dewi Tanjung yang melaporkan masalah tersebut ke Polda Metro Jaya.

"Jadi saya tidak terlalu optimis dengan hasil pertemuan kelak antara Presiden dan Kapolri tentang kasus Novel. Namun kita harus ingat bila kita menelaah kasus Novel, harus kita bedakan antara mengkaji dari sisi politik dan sisi hukum walaupun hingga saat ini keduanya masih nampak suram," tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, Presiden Jokowi akan menagih penyelesaian kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan ke Kapolri Jenderal Pol Idham Aziz, pada awal pekan depan.

"Nanti saya jawab setelah dapat laporan dari Kapolri, Senin (9/12) akan saya undang Kapolri," ujar Jokowi usai meresmikan Jalan Tol JORR II ruas Kunciran-Serpong di Gerbang Tol Parigi, Kota Tangerang Selatan, Banten, Jumat (6/12/2019).

Jokowi menyakini, Kepolisian dapat menuntaskan kasus Novel dan mengungkap pelaku utama penyerangan. "Saya yakin, Insya Allah terungkap," ucap Jokowi.

Saat Idham Aziz menjadi Kapolri, Jokowi memberikan waktu untuk pengungkapan kasus Novel hingga awal Desember 2019.

"Saya sudah sampaikan ke Kapolri yang baru, saya beri waktu sampai awal Desember. Saya sampaikan awal Desember," kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (1/11/2019).

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved