Komisi III DPR Dorong Teknologi Bodycam Digunakan Berbagai Satuan Kerja Polri

bodycam bisa digunakan satuan tugas lain seperti Shabara, Reskrim dan Narkoba diyakini dapat membuat Polri semakin profesional, moderen dan terpercaya

Komisi III DPR Dorong Teknologi Bodycam Digunakan Berbagai Satuan Kerja Polri
Instagram @ahmadsahroni88
Pernah Tak Diberi Uang Rp 10 Ribu untuk Beli Pulsa Hingga Dilempar Asbak Oleh Bos, Ketua Ferarri Ahmad Sahroni: Saya Rasa Luar Biasa Pedih! 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni mengapresiasi inovasi penggunaan bodycam untuk petugas Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya.

Menurutnya, bodycam bisa digunakan satuan tugas lain seperti Shabara, Reskrim dan Narkoba diyakini dapat membuat Polri semakin profesional, moderen dan terpercaya (Promoter).

Sahroni menjelaskan, teknologi bodycam dilengkapi panic button dan GPS akan memberikan banyak keuntungan terhadap Polri dalam memberikan pelayanan, pengungkapan kasus hingga pengawasan.

Karenanya ia mendorong penerapan bodycam disertai fitur panic button dan GPS dapat diterapkan pula pada satuan kerja lain, khususnya yang bersentuhan dengan masyarakat secara langsung.

"Inovasi bodycam lengkap dengan fitur panic button dan GPS yang akan diterapkan pada seragam anggota Patroli Jalan Raya (PJR) sangat bagus. Dengan teknologi ini banyak manfaat diperoleh seperti pemantauan arus lalu lintas, bantuan pengejaran pelaku kejahatan yang melintas di jalan raya hingga pemantauan keberadaan para anggota PJR," kata Sahroni saat dikonfirmasi, Kamis (12/12/2019).

Baca: Beredar Poster Pelaku Persekusi Banser Jadi DPO, Polda Metro Jaya: Itu Hoaks

“Kami mendorong teknologi ini juga diterapkan di satuan kerja lain. Sabhara yang bertugas menjaga aksi demonstrasi, Reserse, termasuk narkoba misalnya,” ujarnya.

Bendahara Umum Partai NasDem ini menjelaskan, penggunaan bodycam, panic button dan GPS akan membuat masyarakat semakin percaya sehingga stigma negatif terhadap Polri akan terkikis.

Contohnya dalam penanganan aksi demo, masih banyak masyarakat yang menganggap penjagaan dilakukan Polri masih terkesan represif dan melanggar HAM.

“Dengan adanya bodycam, akan terlihat bagaimana kondisi pengamanan dilakukan sebenarnya. Apakah memang ada oknum yang melakukan tindakan kesewenang-wenangan atau tindakan dilakukan Polri bersifat pertahanan karena terus menjadi sasaran massa. Gambar tersimpan dapat membantu pimpinan menentukan sikap saat terjadi peristiwa kekerasan yang dituduhkan kepada Polri saat menjaga demonstran," kata Sahroni.

Dalam kesempatan yang sama Sahroni menuturkan masyarakat juga masih mencurigai adanya aksi main mata atau kerap disebut dengan sandi 86 saat penanganan perkara ataupun pelanggaran lalu lintas.

Halaman
12
Penulis: Wahyu Aji
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved