Hari Ibu

Peringatan Hari Ibu Bukan Latah Ikuti Masyarakat Barat

Tahun 1938 hasil kongres ke 3 menetapkan Hari Ibu dengan diikuti Keppres 1959 oleh Pesiden Soekarno

Peringatan Hari Ibu Bukan Latah Ikuti Masyarakat Barat
istimewa
Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto bersama anggota 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo menegaskan, peringatan Hari Ibu bukan sekadar latah mengikuti kebiasaan masyarakat barat dengan peringatan Mother Day.

Namun peringatan Hari Ibu merupakan momen sejarah yang sangat penting, karena
Hari Ibu diusulkan Kowani langsung kepada Presiden Soekarno.

Tahun 1938 hasil kongres ke 3 menetapkan Hari Ibu dengan diikuti Keppres 1959 oleh Pesiden Soekarno.

Penegasan Giwo disampaikan terkait masih adanya penilaian dari tokoh agama yang menilai peringatan Hari Ibu tidak perlu dilakukan masyarakat, karena hanya mengikuti kebiasaan masyarakat barat.

"Saya rasa perlu diperjelas bahwa peringatan Hari Ibu itu sangat penting, karena upacara peringatan Hari Ibu sebagai kilas balik peristiwa sejarah 91 tahun lalu dan untuk mengenang jasa founding mother. Selain itu justru peringatan Hari Ibu karena adanya usulan dari Kowani," ujar Giwo pada acara Pisah Sambut DP Kowani Masa Bakti 2014 – 2019, di Graha CMIB Niaga, Sudirman, Jumat (20/12/2019).

Baca: Anggota Kowani Diminta Jadi Bagian dalam Upaya Menggerakkan Ekonomi Keluarga

Baca: Harapan Ade Fitrie Kirana di Konggres Wanita Indonesia 2019

Masyarakat dan semua kalangan, lanjut Giwo, termasuk tokoh agama harus memahami hal ini karena banyak yang belum paham tentang peristiwa sejarah lahirnya Hari Ibu. 

Tahun ini pun, peringatan Hari Ibu yang jatuh pada hari Minggu, juga dilakukan di kantor Kowani, dengan sebelumnya melakukan upacara pengibaran bendera merah putih di halaman kantor Kowani, di jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Uniknya pada peringatan Hari Ibu tahun ini, setiap anggota Kowani mengenakan kebaya.

"Sengaja kita akan menggunakan kebaya untuk mengingatkan kembali bahwa kebaya juga merupakan aset bangsa yang perlu dilestarikan. Kebaya juga mengingatkan perjalanan tokoh pejuang perempuan," katanya.

Selain itu, sejarah juga mencatat bahwa umur Kowani jauh lebih tua dari umur kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada masa itu tahun 1928, Kowani tumbuh dan bergerak serta berkiprah hampir bersamaan dengan Gerakan Sumpah Pemuda.

Baca: Konferensi GWRA Washington, Pita Putih Indonesia Gelorakan Ibu Sehat, Indonesia Sehat

Baca: Ferdinand Hutahaean Sindir Ketum Kowani yang Menolak Dipanggil Emak-emak, Lu Mau Sok Beradab?

“Peringatan 22 Desember itu kan peringatan hari sejarah jadi memang kita harus memperingatinya," serunya.

Peringatan Hari Ibu juga mengingatkan kembali tentang sosok seorang Ibu sebagai Ibu bangsa, yang memiliki tanggung jawab dan peran dalam membentuk generasi bangsa yang berkualitas.

Giwo juga mengingatkan, generasi bangsa haruslah memberikan penghormatan kepada seorang ibu, juga bapak dan guru.

Tidak hanya orangtua sendiri, namun penghormatan kepada seseorang yang lebih tua itu merupakan hal yang harus dilakukan dan dijaga tradisinya seperti semua agama mengajarkan penghormatan kepada orangtua.

Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved