JPPI: Jebloknya Tingkat Literasi Membuat Masyarakat Kesulitan Bedakan Berita Fakta dan Hoaks

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji menilai tingkat literasi masyarakat terus menurun

JPPI: Jebloknya Tingkat Literasi Membuat Masyarakat Kesulitan Bedakan Berita Fakta dan Hoaks
Thinkstock
Ilustrasi hoaks 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji menilai tingkat literasi masyarakat terus menurun dalam tujuh tahun terakhir ini.

Ubaid mengutip hasil Program Penilaian Pelajar Internasional atau Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh OECD. Menurut Ubaid, tingkat literasi siswa di Indonesia terus menurun dalam tiga kali penilaian PISA.

"Kualitas pendidikan merosot, sehingga kalau dibandingkan hasil Pisa yang dirilis tahun 2019, kemudian sebelumnya tahun 2015, dan tahun 2012. Skor kita merosot terus, yang terakhir yang paling parah merosotnya adalah masalah literasi atau membaca," ujar Ubaid pada acara Catatan Akhir Tahun JPPI di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (30/12/2019).

Baca: Catatan Akhir Tahun 2019 PWI: Tegakkan Independensi dan Profesionalisme Pers

Baca: 6 Kasus Kerusuhan di Indonesia Sepanjang 2019, Rasis, Hoaks hingga Provokasi

Baca: Perampokan Minimarket di Cikini Didalangi Bocah 14 Tahun, Ikut Libatkan Pegawai

Menurut Ubaid, rendahnya tingkat literasj membuat masyarakat tidak bisa membedakan fakta dengan hoaks. Dirinya menyebut hal ini dapat mendorong masyarakat mudah tersulut oleh berita bohong.

"Minat baca yang minim membuat masyarakat tidak dapat membedakan mana berita fakta dan mana berita bohong. Sehingga banyak masyarakat yang salah menerima informasi lalu memicu emosi kemarahan publik," ucap Ubaid.

Sejauh ini menurut Ubaid, belum ada gerakan literasi yang sifatnya komprehensif. Dirinya menyoroti gerakan literasi nasional (GLM) yang digagas Kemendikbud.

Ubaid menilai sejauh ini gerakan tersebut belum diimplementasikan secara komprehensif untuk siswa.

"Ini memang belum ada gerakan literasi yang komprehensif, yang di sekolah dengan lingkungan keluarga dan masyarakat," ujar Ubaid.

Dirinya juga menilai masih terbatasnya fasilitas dan buku-buku pada perpustakaan yang dapat memacu tingkat literasi siswa.

Seperti diketahui, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang berpusat di Paris, Perancis, merilis Program Penilaian Pelajar Internasional atau Programme for International Student Assessment (PISA) 2018.

Dalam penilaiannya, Indonesia termasuk dalam negara yang dinilai melalui PISA. Berdasarkan hasil PISA 2018 menunjukkan kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, meraih rata-rata skor 371.

Sementara untuk sains rata-rata skor siswa Indonesia yakni 396, dan matematika yakni 379.

Penilaian ini membuat Indonesia berada di peringkat 72 dari 77 negara. Indonesia hanya memiliki skor yang lebih baik dibandingkan Maroko, Lebanon, Kosovo, Republik Dominika, dan Filipina.

China, Singapura, Hongkong, Macao, dan Estonia menjadi lima negara tertinggi dalam peringkat PISA.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved