Pengamat : Siapa Pun Presiden di Indonesia, Tak Mungkin Tak Kerjasama dengan China

Menurut pengamat, siapa pun Presiden di Indonesia tidak mungkin tak kerjasama dengan China.

Pengamat : Siapa Pun Presiden di Indonesia, Tak Mungkin Tak Kerjasama dengan China
WARTA KOTA/henry lopulalan
NEGARA YANG BERPENGARUH DI ASIA - Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan menyampaikan paparan tentang persepsi publik terhadap negara-negara paling berpengaruh di Asia saat Rilis Temuan Survei Nasional di Jakarta, Minggu (12/1/2020). Berdasarkan hasil survei yang dilakukan per Juli 2019 itu penilaian atas negara yang dinilai paling berpengaruh di kawasan Asia adalah Republik Rakyat China (RRC) dengan presentase 39 persen, selanjutnya Amerika Serikat 18 persen, dan Jepang 14 persen. Warta Kota/henry lopulalan 

TRIBUNNEWS.COM - Menurut pengamat, siapa pun Presiden di Indonesia tidak mungkin tak kerjasama dengan China.

Hal itu disampaikan oleh pengamat hubungan internasional Dinna Wisnu yang mengomentari keputusan Indonesia untuk tetap menjalin kerjasama dengan China sekali pun perairan Natuna didaulat.

Dinna Wisnu mengungkapkan kerjasama dengan China menjadi pilihan paling realistis mengingat negeri tirai bambu itu adalah negara yang berpengaruh di dunia.

Pengamat hubungan internasional Dinna Wisnu mengatakan, pengaruh China di dunia tak lagi terbantahkan. Pilihan kerja sama dengan China dinilai realistis.

Hal itu ia sampaikan merespons temuan survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang menyatakan 39 persen dari 1.540 responden menganggap China negara paling berpengaruh di kawasan Asia, termasuk di Indonesia.

 Menhan Prabowo Dikritik karena Lembek pada China di Perairan Natuna, Selalu Sebut Negara Sahabat

"China itu sudah tidak terbantahkan lagi pengaruhnya di seluruh dunia. Jangankan di Asia, di seluruh dunia. Penguasa manapun, siapapun yang jadi presiden di Indonesia, tidak akan mungkin bisa lepas dari bekerja sama atau tidak bekerja sama dengan China. Pilihan kerja sama itu menjadi realistis daripada tidak," kata dia di Hotel Erian, Jakarta, Minggu (12/1/2020).

Pengamat hubungan internasional Dinna Wisnu(KOMPAS.com/DYLAN APRIALDO RACHMAN)
Pengamat hubungan internasional Dinna Wisnu(KOMPAS.com/DYLAN APRIALDO RACHMAN) ()

Pengamat yang aktif mengajar di Universitas Paramadina dan Universitas Bina Nusantara ini menilai, sekalipun dibandingkan Amerika Serikat, China merupakan negara yang memiliki cadangan devisa lebih banyak.

"Jadi yang berkuasa itu pasti minta investasi China. Ini bukan negara kita aja. Turki misalnya, Erdogan pun bulan Juni kemarin dia minta uang kepada China dan diberi cash 1 billion US dollar, that was the biggest support in cash. China itu punya intensi untuk mendekat, uangnya juga lebih liquid," katanya.

Di Indonesia, kata Dinna, begitu banyak barang yang digunakan masyarakat Indonesia dalam kesehariannya merupakan produk yang berasal dari China, seperti telepon seluler.

 Tanggapi Perbedaan Sikap Menteri Tangani China Masuk Perairan Natuna, Jokowi Angkat Bicara

"Bicara soal kepemilikan handphone saja sudah terbukti kuartal ketiga 2019 yang dominan, bukan lagi AS dan sekutunya seperti Samsung atau Apple. Tapi China dengan segala macam bentuknya. Induk perusahaan China itu sudah menguasai pasar Indonesia," katanya.

HALAMAN 2 >>>>>

Editor: Salma Fenty Irlanda
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved