Didebat Azaz Tigor soal Gugatan ke Anies Lantaran Politisasi Banjir, Haji Lulung: Sangat Naif

Tim kuasa hukum korban banjir Jakarta Azas Tigor Nainggolan sebut Anies Baswedan dan pendukung politisasi banjir. Begini pembelaan Haji Lulung.

Didebat Azaz Tigor soal Gugatan ke Anies Lantaran Politisasi Banjir, Haji Lulung: Sangat Naif
YouTube KOMPASTV
Ketua Umum Bamus Betawi Abraham Lunggana atau akrab disapa Haji Lulung berdebat dengan anggota Tim Advokasi Korban Banjir DKI Jakarta Azas Tigor Nainggolan. Azas berpendapat bahwa gugatan sebagian korban banjir terhadap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswean sudah dipolitisasi oleh pihak pendukung Anies. 

Baginya, demo tersebut sama sekali tidak mewakili para korban banjir lantaran jumlah massa hanya sedikit.

"Sekarang itu, satu pun manusia pendukung Anies tadi, kalau dibilang pendukung Anies, tidak punya idealis untuk menuntut Anies," kata Haji Lulung.

"Tapi kalau kemarin ada orang yang di sana itu orang-orang pragmatis saya pikir."

"Yang mendemo soal banjir?" tanya Rosi.

"Iya, cuma berapa orang saya lihat, tidak mewakili," jawab Haji Lulung.

Anggota Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) DKI Jakarta Muslim Muin tidak sepakat Gubernur Jakarta Anies Baswedan digugat oleh korban banjir. Bahkan Muslim menyebut 13 sungai besar yang melintang di seluruh penjuru DKI Jakarta bukanlah tanggung jawab Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Anggota Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) DKI Jakarta Muslim Muin tidak sepakat Gubernur Jakarta Anies Baswedan digugat oleh korban banjir. Bahkan Muslim menyebut 13 sungai besar yang melintang di seluruh penjuru DKI Jakarta bukanlah tanggung jawab Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. (YouTube KOMPASTV)

TGUPP: 13 Sungai Bukan Tanggung Jawab Pemprov

Sebelumnya, Muslim sempat menyebut 13 sungai besar yang melintang di seluruh penjuru Jakarta bukanlah tanggung jawab Pemprov Jakarta.

Ada pun 13 sungai yang dimaksud adalah Angke, Pesanggragan, Grogol, Krukut, Baru Barat, Ciliwung, Baru Timur, Cipinang, Sunter, Buaran, Jatikramat, Cakung, dan Mookervaart.

"Jadi gini, tadi disampaikan sungai-sungai tidak dirawat, nah sungai itu yang punya tanggung jawab bukan DKI," ujar Muslim.

"Sungai itu bukan tugas DKI, itulah jadi masalah sekarang itu," sambungnya.

Muslim menyebut 13 sungai itu adalah tanggung jawab pemerintah pusat.

"Sungai itu bukan tanggung jawab DKI?" tanya pembawa acara Rosiana Silalahi.

"Bukan, 13 sungai ini (tanggung jawab pemerintah pusat)," jawab Muslim.

Pengamat Tata Kota, Yayat Supriyatna yang hadir dalam acara tersebut pun bingung dan meminta penjelasan kepada Muslim.

Muslim menyebut pihak Pemprov Jakarta tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah banjir melalui perawatan sungai lantaran ada ancaman dipenjara.

"Gini pak, ada sungai nasional, dan ada sungai provinsi, ini mungkin perlu dijelaskan mana yang provinsi mana yang nasional," sanggah Yayat.

"Jadi banyak sungai-sungai itu yang tidak dikeruk, dan banyak kasus seperti itu. Pesanggrahan tidak dikeruk, akhirnya saluran dari DKI tidak bisa masuk Pesanggrahan," jawab Muslim.

"Dan sungai-sungai ini, saya minta ke orang DKI 'Pak, tolong dikeruk' 'Kita keruk nanti kita masuk penjara pak' katanya gitu," terangnya.

Rosi pun sampai kembali meminta penegasan dari pernyataan Muslim.

Muslim menegaskan bahwa Pemprov Jakarta tidak bisa berbuat apa-apa terkait 13 sungai itu.

"13 sungai itu jadi sungainya pusat?" tanya Rosi.

"Tanggung jawabnya pusat," tegas Muslim.

"Jadi Pemprov DKI tidak bisa ngapa-ngapain?" tanya Rosi lagi.

"Tidak bisa ngapa-ngapain," ujar Muslim.

Ketika membahas cara pencegahan banjir, Muslim kembali menyinggung pendapatnya bahwa banjir tersebut adalah siklus 1000 tahunan.

Bagi Muslim, tidak mungkin Pemprov Jakarta memprogramkan pencegahan banjir yang siklusnya ribuan tahun tersebut.

"Bagaimana kita mengurangi risiko ini, ya jangan sampai terjadi banjir kan," kata Muslim.

"Supaya tidak ada banjir, bagaimana, ya sistemnya harus dibangun sesuai dengan curah hujannya," imbuhnya.

"Curah hujan yang datang itu 1000 tahunan Mbak Rosi, mau didesain saluran 1000 tahunan. Habis itu kota dengan saluran."

Berikut video lengkapnya:

(Tribunnews.com/ Ifa Nabila)

Penulis: Ifa Nabila
Editor: Garudea Prabawati
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved