Eksklusif Tribunnews

Siapa Sangka, Ternyata Ketua KPK Firli Bahuri Pernah Gagal Lolos Tes Jadi Polisi

Di balik sebuah pencapaian yang tinggi, ternyata ada sebuah perjuangan berat yang harus Firli lalui.

Siapa Sangka, Ternyata Ketua KPK Firli Bahuri Pernah Gagal Lolos Tes Jadi Polisi
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ketua KPK Firli Bahuri berpose usai wawancara khusus dengan Tribunnews.com di gedung KPK, Jakarta, Selasa (21/1/2020). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebelum menjadi ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Komisaris Jenderal Polisi Firli Bahuri pernah mengemban sejumlah jabatan di kepolisian. Dia pernah menjadi wakil kepala Kepolisian Daerah Banten dan Jawa Tengah.

Firli kemudian menjadi kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat dan Sumatera Selatan. Sebelum masuk KPK, Firli juga sempat menjabat sebagai kepala Badan Pemeliharaan Polri dan analis kebijakan utama Baharkam Polri.

Di balik sebuah pencapaian yang tinggi, ternyata ada sebuah perjuangan berat yang harus Firli lalui. Siapa sangka, Firli pernah gagal lolos tes masuk Akademi Kepolisian (dulu AKABRI, red). Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.

Bagaimana cerita perjuangan pria asal Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan ini untuk menjadi seorang penegak hukum? Firli Bahuri menuturkan itu kepada Tribun Network dalam sebuah wawancara eksklusif di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (21/1) petang.

Ketua KPK Firli Bahuri menjawab pertanyaan saat wawancara khusus dengan Tribunnews.com di gedung KPK, Jakarta, Selasa (21/1/2020). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ketua KPK Firli Bahuri menjawab pertanyaan saat wawancara khusus dengan Tribunnews.com di gedung KPK, Jakarta, Selasa (21/1/2020). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Anda cerita enam kali tes untuk masuk Akpol. Kenapa Anda sampai enam kali tes dan masih bersikukuh masuk Akpol?

Selama enam kali itu saya bukan menganggur. Tes pertama tahun 82 itu saya gagal, terus saya ikut kuliah. Tetapi kan kuliah tentu biayanya besar, sudah kuliah besar, setelah kuliahpun belum tentu juga dapat pekerjaan.

Sementara saya berlatar belakang keluarga yang jauh dari kecukupan, tentu kita harus fight. Seperti yang saya tadi bilang, man is born to life. Jadi lahir hanya untuk hidup. Setelah dia lahir, dia tidak disiapkan untuk hidup dan kehidupannya.

Maka saya harus menyiapkan diri. Dan kita semuanya itu punya hak untuk memilih. Apakah Anda akan memilih A, memilih B, karena begitu banyak hambatan dan pilihan.

Nah, kebetulan saya memilih untuk terus berusaha, untuk menjadi taruna Akabri. Tahun 82 saya gagal, pulang dari Magelang. Tahun 83 saya gagal lagi, pulang lagi dari Magelang.

Tahun 84, pulang lagi dari Magelang. Kebetulan ada pendaftaran bintara, saya ikut. Masuk. Berjalan selesai lulus, saya pindah ke Bandung. Saya daftar lagi tahun 85 di Bandung.

Halaman
123
Penulis: Deodatus Pradipto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved