Eksklusif Tribunnews

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo: Impor Bukan Haram, tapi yang Untung Siapa?

Setelah menjabat Menteri Pertanian selama 100 hari, Syahrul Yasin Limpo, merasa hasil kerjanya tidak buruk.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo: Impor Bukan Haram, tapi yang Untung Siapa?
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Direktur Surat Kabar Regional Tribun, Febby Mahendra Putra nge vlog bareng Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat wawancara khusus di kantor Kementerian Pertanian, di Jakarta, Rabu (29/1/2020). Wawancara khusus membahas seputar kinerja Menteri Syahrul Yasin Limpo menangani permasalahan hasil pertanian di Indonesia. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Setelah menjabat Menteri Pertanian selama 100 hari, Syahrul Yasin Limpo, merasa hasil kerjanya tidak buruk. Ia menjamin, sampai April 2020 ketersediaan pangan bagi sekira 256 juta penduduk negeri ini tercukupi, meski tidak mustahil muncul cuaca ekstem.

"Tugas saya memastikan ketersediaan pangan bagi 267 juta orang penduduk Indonesia. Saya berharap ketersediaan itu tidak hanya sampai April 2020 tapi sampai tahun-tahun berikutnya," ujar mantan Gubernur Sulawesi Selatan tersebut dalam wawancara eksklusif dengan tim Tribun Network di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (29/1/2020).

Diakuinya mengurus pertanian memang tidak mudah karena sangat dipengaruhi oleh masalah cuaca, bencana alam, dan hama. SYL, panggilan akrab Syahrul Yasin Limpo, mengaku dirinya merasa terganggu oleh impor produk petanian.

"Kalau itu (impor) yang kita utamakan, rakyat dapat apa? Yang untung siapa? Itu yang ada dipikiran saya. Namun bukan berarti impor itu haram," katanya.

Baca: Mentan Syahrul Dorong Sulsel Jadi Pionir Perkereditan KUR

Baginya, impor produk pertanian sah‑sah saja, asalkan ekspor harus lebih besar. "Itu yang ada di kepala saya sekarang," ucapnya. Berikut petikan wawancara Tribun Network dengan SYL.

Direktur Surat Kabar Regional Tribun, Febby Mahendra Putra bersama Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat wawancara khusus di kantor Kementerian Pertanian, di Jakarta, Rabu (29/1/2020). Wawancara khusus membahas seputar kinerja Menteri Syahrul Yasin Limpo menangani permasalahan hasil pertanian di Indonesia. TRIBUNNEWS/HERUDIN
Direktur Surat Kabar Regional Tribun, Febby Mahendra Putra bersama Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat wawancara khusus di kantor Kementerian Pertanian, di Jakarta, Rabu (29/1/2020). Wawancara khusus membahas seputar kinerja Menteri Syahrul Yasin Limpo menangani permasalahan hasil pertanian di Indonesia. TRIBUNNEWS/HERUDIN (TRIBUNNEWS/HERUDIN)

Apa saja upaya Anda untuk mengurangi impor produk pertanian?
Perbaiki ekspor kita, perbaiki kualitas pertanian kita. Jangan gampang‑gampang mengeluarkan izin impor. Kita harus berpihak pada kepentingan rakyat. Saya di sini (Kementerian Pertanian) ditunjuk oleh Presiden dalam rangka membangun keberpihakan kepada rakyat.

Mengapa Anda merasa terganggu oleh impor pangan?
Impor ini kan' yang paling mudah dilakukan. Impor dari luar itu kan' harganya lebih murah, kualitasnya lebih bagus, dan lebih indah.

Tapi kalau itu yang kita utamakan, rakyat bisa dapat apa? Yang untung siapa? Itu yang ada dipikiran saya. Bukan berarti impor itu haram.

Baca: Mendagri Dukung Mentan Capai Swasembada di Sektor Pertanian

Intinya sekarang ini, dua tiga bulan ini untuk pertama kali ekspor paling besar ada di bidang pertanian. Ini data BPS.

Baca: Pimpin Birokrasi 25 Tahun, Syahrul Yasin Limpo Tidak Kaget Ditunjuk Jadi Mentan

Kita tidak usah bilang tidak boleh masuk impor, tapi kita lawan dengan ekspor yang lebih besar. Impor boleh tapi ekspor harus lebih besar. Itu yang ada di kepala saya sekarang.

Halaman
123
Penulis: Dennis Destryawan
Editor: Rachmat Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved