Kasus Jiwasraya
Anggota Panja Jiwasraya Masih Mengkaji Rencana Pemanggilan Dato Sri Tahir
Beberapa media juga menyebut, antara Dato Sri Tahir dengan Benny Tjokrosaputro saling berhubungan.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Panja Jiwasraya dari Fraksi PPP Achmad Baidowi (Awiek) mengatakan, pihaknya masih mengkaji rencana pemanggilan pemilik grup Mayapada, Dato Sri Tahir terkait kasus Jiwasraya.
Pihaknya akan mengkaji lebih jauh terkait rencana tersebut. Pasalnya, saat ini masih mengumpulkan berbagai bukti untuk mengungkap kasus Jiwasraya.
"Jika berdasarkan kajian beliau layak untuk dihadirkan, maka kami akan menyampaikannya kepada rapat panja," ujarnya kepada Tribunnews.com, Minggu (2/2/2020).
Wakil Sekretaris Jenderal PPP ini juga menyebut, masih mendalami keterlibatan tersangka Komisaris PT Hanson International, Benny Tjokrosaputro dalam kasus Jiwasraya.
Karena, beberapa media juga menyebut, antara Dato Sri Tahir dengan Benny Tjokrosaputro saling berhubungan.
"Kalau ternyata hasil dari kajian clear, ya tidak perlu mendatangkan Dato Sri Tahir ke rapat panja," jelasnya.
Baca: Demokrat Minta Tulisan Benny Tjokro Ditelusuri, Siapa Pihak Lain Terlibat Kasus Jiwasraya?
Sebelumnya, Pemilik Mayapada Group Dato Sri Tahir diwacanakan akan dipanggil Panitia Kerja (Panja) Jiwasraya di Komisi VI DPR RI terkait kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya (Persero).
Baca: Fraksi Demokrat: SBY Tak Baper, Jiwasraya Sudah Bermasalah Sejak 1998
Wacana pemanggilan itu dikarenakan rumor kedekatan antara Tahir dengan salah satu tersangka kasus Jiwasraya, Benny Tjokrosaputro.
Tahir mengakui Benny Tjokro merupakan nasabah Mayapada. Namun, konglomerat terkaya nomor 7 di RI itu membantah adanya penempatan dana Jiwasraya di PT Bank Mayapada Internasional Tbk.
"Tidak ada dana apapun. Alamatnya (Jiwasraya) saja ya tidak tahu," kata Tahir saat dikonfirmasi Tribunnews.com, Jumat (31/1/2020).
Tahir mengaku mengenal Benny benar berteman dengan orang tua Direktur Utama PT Hanson International itu.
Namun, tak ada kedekatan khusus antara dirinya dengan Benny Tjokro.
"Saya dekat sama almarhum ayahnya. Kalau saya sama dia (Benny Tjokro beda generasi. Beda dua puluh tahun lebih," jelasnya.
Tahir menegaskan tak pernah terlibat dengan kasus gagal bayar klaim nasabah yang mencapai Rp 12,4 triliun itu.
"68 tahun saya hidup di sini, saya tidak pinjam bank pemerintah, saya tidak ada proyek pemerintah, ya saya berusaha kerja yang baik ya," ucap Tahir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/benny-tjokrosaputro-jalani-pemeriksaan-di-kpk-terkait-jiwasraya_20200121_191100.jpg)