Ditjen Gakkum KLHK Tangkap Dirut PT NTS Terkait Kasus Pencemaran Lingkungan di Bekasi

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Ditjen Gakkum KLHK) menangkap Direktur Utama (Dirut) PT NTS.

Tribunnews.com/ Larasati Dyah Utami
Direktur Penegakan Hukum Pidana LHK, Yazid Nurhuda, menggelar jumpa pers pengungkapan kasus, Jakarta, Rabu (5/2/2020). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Larasati Dyah Utami

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktorat Jenderal Penegakkan Hukum dan Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Ditjen Gakkum KLHK) menangkap Direktur Utama (Dirut) PT NTS.

Penangkapan dilakukan terkait kasus pencemaran lingkungan di Bekasi.

Direktur Penegakan Hukum Pidana LHK, Yazid Nurhuda, mengatakan tersangka NS ditangkap, Selasa (21/1/2020).

NS merupakan Dirut PT NTS, Perusahaan Jasa Pengolah Limbah B3.

"PT NTS merupakan perusahaan yang bergerak dibidang limbah B3 khususnya pengumpulan. Jadi izin yang dia punya pengumpulan limbah B3," ujar Yazid, Rabu (5/2/2020) di kantor KLHK.

PT NTS ditemukan pejabat pengawas lingkungan hidup melakukan tiga pelanggaran terhadap pemanfaatan izin perusahaan.

Baca: Bacaan Niat Shalat Tahajud, Lengkap dengan Tata Cara, Waktu & Keutamaannya

Diantaranya, melakukan kegiatan pemanfaat limbah B3 tanpa izin, melakukan penyimpanan di daerah yang tidak memiliki izin, serta melakukan pembuangan limbah ke media lingkungan tanpa izin.

"Pada pengawasan ditemukan, PT NTS melakukan kegiatan pemanfaat limbah B3 tanpa izin. Jadi izinnya pengumpulan, tapi dia juga melakukan pemanfaatan limbah B3 tanpa izin," ujar Yazid.

Kejahatan pencemaran Limbah B3 yang dilakukan oleh NS ini dinilai Direktur Gakkum LHK tersebut merupakan kejahatan yang sangat serius.

NS diduga melakukan tindakan pidana pencemaran lingkungan hidup yaitu melakukan pembuangan (dumping) Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (LB3) sludge minyak, minyak kotor, bottom ash, tanah terkontaminasi ke tanah tanpa izin sehingga menyebabkan tanah terkontaminasi Logam Berat antara lain Arsen, Barium, Chrom Hexavalen, Tembaga, Timbal, Merkuri, Seng, Nikel.

PT NTS juga melakukan pengelolaan LB3 berupa minyak pelumas bekas tanpa izin.

"Hal baru yang kami sampaikan kenapa kasus ini penting. Pertama adalah bahwa untuk pertama kali kami menangkap direktur perusahaan pengelola limbah yang diduga melakukan pencemaran dan kami tahan. Kasus ini kami akan kembangakan. Kalau memenuhi unsurnya perusahaan atau korporasinya. Kalau korporasinya nanti akan kita gandeng dengan pasal 119 UU 32 yaitu untuk pemulihan lingkungan hidup," ujarnya.

Baca: Dokter Li Wenliang, Dokter yang Pertama Ungkap Wabah Virus Corona Sempat Dituduh Keterangan Palsu

Disampaikan Yazid, kasus ini menjadi penting dikarenakan limbah B3 tidak hanya berbahaya bagi lingkungan tetapi juga berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

"Kemudian kenapa kasus ini penting, karena ini juga terjadi pencemaran logam berat di lokasi tempat dumping ilegal tersebut, kalo itu berimbas kepada air tanah dia akan bisa mencemari lokasi diluar tanah tersebut yang membahayakan kesehatan masyarakat," katanya.

Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved