Kepalangmerahan Perlu Diperkuat dengan Pendidikan dan Teknologi

“Sedang teknologi memungkinkan kecepatan, produktivitas, dan efisiensi layanan kemanusiaan,” kata Sudirman Said

Kepalangmerahan Perlu Diperkuat dengan Pendidikan dan Teknologi
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Personil Palang Merah Indonesia (PMI) melakukan simulasi pertolongan pertama korban kecelakaan pada acara apel siaga lebaran 2016, di kantor pusat PMI, Jakarta, Jumat (24/6/2016). Menghadapi mudik lebaran 2016, PMI menyiagakan 219 pos pertolongan pertama dan 333 unit ambulan serta memobilisasi 5632 personil terdiri dari sukarelawan, dokter, dan paramedis dengan fokus di wilayah padat pemudik mulai dari Sumatera hingga Jawa. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pendidikan dan teknologi berperan penting dalam dunia kepalangmerahan.

Sekjen Palang Merah Indonesia (PMI) Sudirman Said dalam keterangannya, Jumat (7/2/2020) mengatakan, pendidikan akan memperkuat tiga hal, yakni pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Baca: Bantu Pencegahan Virus Corona, PMI Kirimkan 70 Ribu Masker ke Hong Kong dan Natuna

“Sedang teknologi memungkinkan kecepatan, produktivitas, dan efisiensi layanan kemanusiaan,” kata Sudirman Said pada acara serah terima jabatan Direktur Akademi Bakti Kemanusiaan (ABK) dari Meilani Jafar ke Diana Novita, Jumat di Kampus ABK, Jakarta.

Sudirman mengemukakan, PMI akan meningkatkan kualitas lembaga pendidikan yang ada di bawahnya guna menghasilkan SDM unggul dalam bidang transfusi darah.

“Ke depan ABK harus diperkuat dan meningkat menjadi politeknik agar lebih banyak program yang bisa diajarkan terkait kepalangmerahan,” sambungnya.

Sudirman juga berharap, lembaga pendidikan seperti ABK dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia.

Karena SDM dalam bidang transfusi darah sangat dibutuhkan, baik untuk PMI sendiri maupun rumah sakit-rumah sakit di seluruh Indonesia.

“Ada gap antara jumlah lulusan lembaga vokasi, seperti ABK dengan kebutuhan dunia kerja. Kebutuhan tenaga terampil lulusan lembaga pendidikan vokasi masih sangat besar. Karenanya lembaga seperti ABK harus dikembangkan di daerah-daerah lainnya” urai Sudirman.

Selain di Jakarta, lembaga pendidikan serupa ABK saat ini ada Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Sulawesi.

ABK PMI Jakarta adalah lembaga pendidilan vokasi kesehatan setara Diploma 3.

Seluruh lulusan akademi ini terserap, baik untuk PMI maupun rumah sakit.

Sejak berubah dari D1 ke D3 tahun 2016, ABK PMI Jakarta baru meluluskan 40 orang.

Baca: PMI Apresiasi Kesigapan Pemerintah Evakuasi Ratusan WNI

Namun ketika masih D1 jumlah lulusannya mencapai 1.800 orang lebih.

Sudirman berharap, ABK Jakarta bisa jadi role model atau percontohan bagi daerah lain yang ingin mendirikan lembaga pendidikan serupa.

Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved