Mengenal Sosok Sumiyanto, Orang Indonesia yang Dipercaya Menjaga Kelestarian Tumbuhan Kuno di Jepang

Sumiyanto sudah 14 tahun bekerja di Jepang sejak 2006 dan sudah berbuah sejak tiga tahun lalu menjadi team leader.

Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Sumiyanto Nezu, team leader rumah kaca Shinjuku Gyoen membawahi 6 stafnya orang Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Sumiyanto sudah 14 tahun bekerja di Jepang sejak tahun 2006 lalu. Sejak  tiga tahun lalu Sumiyanto menjadi team leader yang membawahi 6 karyawan Jepang untuk rumah kaca (onshitsu) yang dipimpinnya.

"Ya syukurlah mas diberikan kepercayaan di rumah kaca Shinjuku Gyoen ini," ungkap Sumiyanto yang biasa dipanggil Sumi kepada Tribunnews.com, Kamis (20/2/2020).

Sumi yang beristrikan warga Jepang, Ayako, memiliki 2 anak (putera 12 tahun dan puteri 6 tahun).

“Awalnya memang berat untuk mengurus bunga Kiku (Chrysantinum) yang cukup sensitif, tidak mudah dipelihara karena harus tepat tanggal 1 November berkembang," ujar Sumiyanto.

Sumiyanto Nezu, team leader rumah kaca Shinjuku Gyoen membawahi 6 stafnya orang Jepang.
Sumiyanto Nezu, team leader rumah kaca Shinjuku Gyoen membawahi 6 stafnya orang Jepang. (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

Namun dengan belajar sendiri dan dibantu teman-teman seniornya, Sumi bisa berhasil memelihara dan mengembangkan bunga kiku hingga 2017 lalu dipindahkan ke rumah kaca hingga kini.

"Mungkin mereka melihat saya bisa menjaga, memelihara dan mengembangkan bunga Kiku dengan baik sehingga dipindahkan ke bagian rumah kaca sebagai pemimpin di sini," lanjutnya.

Di rumah kaca semakin berat tugasnya karena salah satunya harus menjaga dan memelihara tanaman langka zaman Meiji agar bisa tetap terpelihara dengan baik.

"Itu tumbuhan langka, dulu cuma ada lima pohon tapi kini berhasil saya tumbuh kembangkan menjadi banyak," kata Sumi.

Baca: Emosi Buruk Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung, Simak Tips Mengendalikan Amarah

Baca: Terkait Paham Radikalisme, Bamsoet Mengajak Masyarakat untuk Lebih Mawas Diri

Sumi memperlihatkan pohon langka tersebut dan Tribunnews.com melihat sudah ada lebih dari 50 tumbuhan langka yang tadinya hanya ada lima tumbuhan.

Latar belakang belajar gamelan kerawitan di ISI Solo, warga asal Klaten anak ke-7 dari 9 bersaudara itu mengakui senang dengan tumbuhan setelah datang ke Jepang.

"Seperti hobi saja saya suka dan kadang sambil kerja saya melantunkan lagu seolah bunyi gamelan berbunyi di telinga saya sambil bekerja membenahi tumbuhan dan pohon buah-buahan di sini," ujarnya.

Melihat itu pengunjung pun mengira hanya anak pemagang asing saja yang bekerja di rumah kaca itu. Ternyata team leader rumah kaca tersebut yang dikontrak 5 tahun sudah diperpanjang dua kali selama ini.

Shinjuku Gyoen taman umum di Shinjuku Tokyo awal mulanya milik kekaisaran Jepang lalu diambil-alih negara.

Info lengkap dan diskusi Jepang bisa bergabung ke WAG Pecinta Jepang kirimkan email nama lengkap dan alamat serta nomor whatsapp ke: info@jepang.com

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved