Pemulangan WNI Eks ISIS

Diaz Minta Seleksi Ketat Rencana Pemulangan Anak Eks ISIS ke Indonesia

Salah satunya mengenai tanda-tanda seorang anak telah terpapar radikalisme serta bagaimana proses rehabilitasinya.

Tribun Jabar/Gani Kurniawan
Massa dari Aliansi Masyarakat Jawa Barat Peduli NKRI melakukan unjuk rasa menolak kepulangan WNI eks ISIS ke Indonesia, di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (27/2/2020). Mereka mendukung kebijakan pemerintah untuk menolak secara tegas WNI eks ISIS kembali ke Indonesia dan selamatkan masyarakat khususnya di Jawa Barat dari paham radikalisme dan teroris ISIS. Tribun Jabar/Gani Kurniawan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Staf Khusus Presiden Diaz Hendropriyono telah mengundang Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos Kanya Eka Santi ke kantornya.

Undangan tersebut sebagai bagian dari persiapan wacana pemulangan anak-anak WNI eks ISIS di bawah usia 10 tahun oleh Menkopolhukam Mahfud MD.

“Saya bertemu Ibu Kanya Eka Santi, Direktur Rehabilitasi Sosial Anak, Kemensos. Kami berdiskusi mengenai persiapan Kemensos dalam menampung anak-anak yang akan kembali ke Indonesia dari Suriah, yang ortunya tergabung dengan ISIS,” ujar Diaz, Sabtu, (7/3/2020).

Dalam pertemuan tersebut ketua Umum PKPI itu mendengarkan paparan mengenai penanganan pengembalian anak-anak yang terpapar radikalisme.

Baca: ‎‎Data 689 Eks ISIS Asal Indonesia Mulai Disetor ke Kemenkumham Untuk Pembekuan Paspor

Salah satunya mengenai  tanda-tanda seorang anak telah terpapar radikalisme serta bagaimana proses rehabilitasinya.

Diaz  menegaskan bahwa dalam proses rehabilitasi nanti, anak-anak WNI eks ISIS harus dipisahkan ke dalam dua kategori yang berbeda.

“Saya memberi masukan bahwa anak-anakpun harus diberi kategori yang jelas, apakah anak tersebut sebagai Dependant atau Fighter,” katanya.

Ia mencontohkan kasus seorang anak bernama  Haft Saiful Rasul (11) yang pergi sendiri ke Suriah.

Ia justru meminta izin kepada ayahnya untuk berjuang ke negara Timur Tengah itu bersama 12 orang temannya di pesantren Bogor, Jawa Barat.  Pada 2017 anak tersebut tewas di Suriah.

“Kemensos, BNPT dan Densus perlu mengidentifikasi apakah anak-anak yang nantinya akan dibawa ke Indonesia termasuk Dependant (dimana mereka sekedar ikut orang tuanya ke Suriah), atau Fighter (pejuang yang kebetulan secara umur masih bocah, seperti Haft Saiful Rasul). Program rehabilitasi atau deradikalisasi yang diberikan kepada anak-anak inipun otomatis harus berbeda. Tolak Fighter, seleksi ketat untuk dependant,” katanya.

Baca: Khawatir Timbulkan Virus Baru di Tanah Air, Eks ISIS di Suriah Tak akan Dipulangkan

Sementara itu Kanya menjelaskan mengenai ciri ciri orang yang sudah terpapar radikalisme. Menurutnya, prilaku mereka biasanya berbeda.

“Karakter orang terpapar radikalisme biasanya ialah menolak mengucapkan salam, menolak makan ayam atau daging, menolak sholat di masjid yang tidak dibangun komunitas mereka, menolak segala bentuk aktivitas seni, membenci aparat negara, dan yang paling krusial ialah menolak Pancasila sebagai ideologi negara,” pungkasnya.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved