Virus Corona

Pembatasan Penerbangan dari Italia, Korea Selatan dan Iran Hanya Bersifat Sementara

Pelarangan atau pembatasan penerbangan dari tiga negara episentrum baru corona yakni Italia, Korea Selatan, dan Iran, sifatnya hanya sementara.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Achmad Yurianto yang juga juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona memberikan keterangan pers di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (6/3/2020). Dalam keterangan persnya Achmad Yurianto menyampaikan sebanyak empat orang dinyatakan suspect virus Corona karena telah melakukan kontak langsung dengan warga Depok yang positif sebelumnya dan mengalami gejala-gejala awal seperti Influenza yang kini tengah diobservasi dan menunggu hasil pasti dari pemeriksan laboratorium. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

 Laporan Wartawan Tribunnews, Taufik Ismail

TRIBUNNEWS. COMN JAKARTA - Juru Bicara Pemerintah untuk penanganan wabah virus corona, Achmad Yurianto mengatakan bahwa pelarangan atau pembatasan penerbangan dari tiga negara episentrum baru corona yakni Italia, Korea Selatan, dan Iran, sifatnya hanya sementara.

Pelarangan akan dicabut tergantung pada tingkat penyebaran virus corona di negara tersebut.

"Yang paling penting dipahami pembatasan ini sementara, tidak seterusnya. Dinamikanya adalah tergantung dari apakah wilayah tersebut sudah tidak ada penularan lagi, apakah wilayah tersebut dinyatakan terkendali dan aman terkait penyebaran Covid-19 ini," kata Achmad Yurianto di Kantor Presiden, Jakarta, Sabtu (7/3/2020).

Baca: Bapak Lima Anak Ditemukan Tewas di Dekat Bongkol Kayu

Baca: ABG yang Bunuh Korbannya Secara Sadis Ternyata Nonton Film Chucky, Ini Kronologinya

Pembatasan tersebut menurut Yurianto hanya untuk mereka yang berasal dari kota kota tertentu, tidak semua wilayah di tiga negara tersebut.

Di antaranya yakni kota Teheran, Qom, dan Gilan (Iran), lalu Kota Lombardia, Veneto, dan Belmod (Italia), serta Daegu dan Provinsi Gyeongsang Utara (Korsel).

"Kalau yang dari luar kota ini masih diizinkan dengan syarat bahwa yang bersangkutan harus membawa sertifikat kesehatan dari otoritas setempat," katanya.

Menurut Yurianto, pelarangan tersebut tidak hanya berlaku bagi WNA dari kota tersebut melainkan juga WNI yang tinggal di kota itu.

"Di kota yang saya sebut tadi ada WNI kita. Artinya ini juga berlaku untuk WNI yang tinggal di kota itu, jadi bukan untuk warga kota itu saja. Siapapun warga negara lain yang tinggal di kota itu, itu yang kita dilarang. Kota lain tetap diizinkan tetapi harus ada sertifikat otoritas setempat, Ini syarat mutlak," ujar dia.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved