Jusuf Kalla Sebut Pemerintah Indonesia Telat Pantau Wabah Corona: Potensinya Mungkin Sangat Besar

Pada acara Mata Najwa, Jusuf Kalla mengakui Indonesia telat dalam melakukan pengecekan terhadap orang-orang yang diduga terpapar Covid-19

Tribunnews/Jeprima
Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla (kanan) dan Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zaitun Rasmin menyampaikan keterangan pers terkait Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi wabah Covid-19, di Gedung MUI, Jakarta Pusat, Selasa (17/3/2020). Fatwa MUI tersebut mengatur di antaranya membolehkan masyarakat untuk mengganti salat Jumat dengan salat Zuhur demi mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19 bagi orang-orang sehat dan melarang sementara pelaksanaan ibadah yang membuat konsentrasi massa bagi umat Islam di wilayah di mana kondisi penyebaran virus corona sudah tak terkendali. Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNNEWS.COM - Mantan Wakil Presiden Indonesia Jusuf kalla menanggapi terkait upaya pemerintah menangani wabah Virus Corona (Covid-19).

Jusuf Kalla atau akrab disapa JK, menyebut bahwa Indonesia telah telat dalam menangani Covid-19.

Dikutip dari acara Mata Najwa, Rabu (18/3/2020), awalnya JK mengomentari perkembangan penanganan Covid-19 di Indonesia.

Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla Menanggapi Fatwa MUI Yang Mneganjurkan Ibadah di Rumah
Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla Menanggapi Fatwa MUI Yang Mneganjurkan Ibadah di Rumah (Youtube Najwa Sihab)

 

JK mengatakan bahwa masalah Covid-19 tidak hanya menyulitkan Indonesia, namun juga negara-negara lain di dunia.

"Banyak negara yang tidak siap, hampir semua tidak siap, termasuk China, dan banyak negara yang juga menanggap ini tidak terlalu serius," katanya.

Ia mengatakan Indonesia merupakan negara yang turut telat dalam menangani Covid-19, namun dirinya percaya bahwa pemerintah telah belajar dari kesalahannya.

"Sama dengan negara lain, kita juga agak telat untuk menanganinya secara baik, secara tepat," kata JK.

Kemudian JK mengatakan hal yang menjadi inti permasalahan di Indonesia adalah telatnya pengetesan terhadap orang-orang yang diduga terjangkit Covid-19.

"Persoalannya kita telat untuk mengetes banyak orang," ujarnya.

"Sampai berapa hari lalu baru seribu lebih, sekarang dilaporkan sudah 2000 tes. Karena itu langsung juga naik itu jumlah yang positif," lanjut JK.

Baca Selengkapnya >>>

Editor: Tiffany Marantika Dewi
Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved