Virus Corona

PKS Minta Pemerintah Pertimbangkan Usulan Lockdown Secara Parsial

Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Mohamad Sohibul Iman kembali menegaskan agar Pemerintah RI mempertimbangkan usulan lockdown secara parsial.

Kompas.com/Kristianto Purnomo
Sohibul Iman dan Prabowo Subianto 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mohamad Sohibul Iman kembali menegaskan agar Pemerintah RI mempertimbangkan usulan lockdown secara parsial melihat perkembangan kasus penyebaran virus corona (Covid-19) yang meluas.

Dia menekankan PKS sedari awal sudah meminta untuk melakukan lockdown parsial di zona merah pandemi dan di daerah-daerah yang memiliki banyak penerbangan langsung ke luar negeri.

"PKS dari awal sudah jelas bahwa kami meminta untuk lockdown. Bahkan kalau tidak memungkinkan lockdown nasional kami anjurkan untuk lockdown parsial. Artinya kota-kota yang terekspose secara langsung ke luar negeri, artinya ada direct flight yang cukup masif itu di lockdown secara lokal," kata Sohibul melalui keterangannya, Minggu (29/3/2020).

Ia melihat fenomena penyebaran Covid-19 saat ini memiliki tren persebaran dari wilayah zona merah di wilayah-wilayah lain di Indonesia.

Karena itu, ia meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mempertimbangkan lockdown parsial di daerah-daerah zona merah Covid-19.

Baca: Christina Ceritakan Perjuangannya Berhasil Sembuh dari Covid-19: Hari Luar Biasa Berat & Sendirian

Baca: Apa Itu Remdesivir? Obat Covid-19 yang akan Diuji Coba WHO ke Malaysia

"Sekarang terbukti anjuran kami ini, hari ini laporan Jawa Tengah, Jawa Timur yang sekarang pada kena positif itu umumnya adalah dari Jakarta, dari Jabodetabek. Makanya kami tetap menginginkan kepada Pak Jokowi berikanlah kebijakan untuk ada lockdown parsial daerah yang memiliki mobilitas sangat tinggi," kata dia.

Sohibul menegaskan pemilihan kebijakan lockdown ataupun social distancing sejatinya tidak berkaitan sama sekali dengan kondisi budaya di masyarakat.

Sebab, baik lockdown maupun social distancing keduanya sama sekali tidak sesuai dengan karakter sosial bangsa Indonesia.

"Jadi bukan lockdown tidak bisa karena bertentangan dengan budaya kita. Social distancing juga bertentangan dengan budaya kita yang suka kumpul-kumpul. Yang terpenting adalah penegakan tegas dari aturan itu," ujarnya.

Baca: Ridwan Kamil Larang Mudik Selama Pandemi Corona, Polisi Buru ODP Wara-Wiri

Baca: Jangan Pernah Isi Daya Powerbank Lewat Lubang USB dalam Bus, Ini Bahaya yang Mengintai

Ia melihat dengan kondisi disiplin warga yang cukup rendah dalam mematuhi social distancing, opsi lockdown secara parsial harus kembali dipertimbangkan.

"Kalaulah DKI ini sudah dilockdown secara parsial dari kemarin saya kira masyarakat tidak akan bisa ke luar dari DKI, karena itu masyarakat dari DKI tidak bisa menularkan di tempat lain, begitu juga di tempat lain. Jadi kami tetap bersikukuh berlakukanlah lockdown secara parsial," ujarnya.

Penulis: chaerul umam
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved