Disebut Pembisik Jokowi soal Kebijakan Virus Corona, Luhut: Suruh Buktiin, Nanti Saya Cium Tangannya

Luhut Binsar Panjaitan menanggapi tudingan bahwa dirinya sebagai pembisik Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Tribunnews/Jeprima
Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut B Pandjaitan bersama Direktur Utama Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Abdulbar M Mansoer dan Ketua Steering Committee MGPA, Happy Harinto melakukan jumpa pers seusai rapat koordinasi terkait penyelenggaraan MotoGP Indonesia antara Menko Kemaritiman dan Investasi, ITDC, dan unit usaha ITDC, Mandalika Grand Prix Association (MGPA) di Kantor Kemenko Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Maritim), Jakarta Pusat, Rabu (29/1/2020). 

TRIBUNNEWS.COM - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sekaligus Menhub Ad Interim, Luhut Binsar Panjaitan menanggapi tudingan bahwa dirinya sebagai pembisik Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dilansir TribunWow.com, Luhut Panjaitan sering disebut sebagai penentu kebijakan-kebijakan dari Jokowi, khususnya terkait penanganan Virus Corona.

Mulanya, Luhut Panjaitan tidak setuju dengan anggapan Jokowi lambat dalam mengambil keputusan.

Luhut Pandjaitan memberikan penjelasan alasan pemerintah tidak melarang warga mudik ditengah pandemi Covid-19.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan (Capture YouTube Kompas TV)

 

Luhut mengatakan sebagai seorang presiden tentunya Jokowi harus benar-benar memikirkan dan juga mempertimbangkan dengan matang setiap kebijakan yang akan dikeluarkan.

Hal itu dikatakan Luhut saat menjadi narasumber dalam acara Rosi yang tayang di channel Youtube KompasTV, Kamis (2/4/2020).

Dirinya menambahkan Jokowi tentunya juga tidak bisa serta merta dalam mengambil keputusan, tetapi harus berkomunikasi dengan berbagai pihak, termasuk para menteri.

Selain itu pastinya harus melihat pengalaman dari negara-negara lain yang juga mengalami masalah yang serupa, seperti di India, Italia ataupun China.

"Orang bilang presiden lambat, di mananya yang lambat? Proses pengambilan keputusannya kan kentara," ujar Luhut.

"Kita kan harus mendengarkan informasi-informasi dari berbagai pihak, sebelum kita membuat keputusan tersebut, untuk memperkecil kemungkinan kesalahan," jelasnya.

"Kita belajar dari India, Italia, China, Korea Selatan, Malaysia, kita lihat semua itu."

>>> Halaman selanjutnya

Editor: Atri Wahyu Mukti
Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved