Peringkat PISA Terus Merosot, Presiden Minta Mendikbud Lakukan Pembenahan Komprehensif

Pengukuran PISA bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan dengan mengukur kinerja siswa berusia 15 tahun di pendidikan menengah

Biro Pers Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam rapat melalui telekonference, Jumat (3/4/2020). 

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo menggelar rapat terbatas membahas strategi peningkatan peringkat Indonesia dalam Program for International Student Assessment (PISA), Jumat, (3/4/2020).

Pengukuran PISA bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan dengan mengukur kinerja siswa berusia 15 tahun  di pendidikan menengah, terutama pada tiga bidang utama, yaitu matematika, sains, dan literasi (membaca).

Menurut Presiden peringkat Indonesia di PISA terus merosot. Pada tahun 2018 peringkat Indonesia dalam kemampuan membaca berada di posisi 74, kemampuan Matematika peringkat 73, dan kemampuan Sain peringkat 71.

Baca: Luhut Binsar Batalkan Kebijakan Anies Baswedan soal Corona, Fadli Zon Curigai Adanya Ketegangan

Presiden mengatakan terdapat tiga permasalahan yang harus diatasi untuk meningkat peringkat PISA Indonesia. Pertama yakni menekan persentase siswa yang berprestasi rendah. 

"Meski kita tahu Indonesia berhasil meningkatkan akses anak usia 15 tahun terhadap sistem sekolah tapi masih perlu upaya lebih besar untuk menekan siswa berprestasi rendah, ditekan hingga di kisaran 15-20 persen di 2030," katanya.

Selain itu juga masih tingginya persentase siswa yang mengulang kelas. Terdapat 16 persen siswa yang mengulang kelas di Indonesia. Angka tersebut,  5 persen lebih tinggi dibanding rata-rata negara anggota The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

"Terakhir, tingginya ketidakhadiran siswa di kelas," katanya.

Baca: Menaker Imbau Pekerja Migran Tabung Cutinya dan Tunda Pulang Ke Tanah Air

Menurut Presiden perlu ada langkah perbaikan secara menyeluruh untuk mengatasi tiga hal tersebut. Baik itu aspek regulasi, anggaran, struktur, manajemen sekolah, kualitas guru, dan beban administrasi guru.

"Guru tidak fokus kegiatan belajar mengajar tapi lebih banyak dipakai untuk hal-hal yang  berkaitan dengan administrasi, Ini tolong digarisbawahi," katanya.

 Selain itu perlu adanya perbaikan proses belajar terutama penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

"Serta perbaikan lingkungan belajar siswa termasuk motivasi belajar, menekan tindakan perundungan di sekolah. Survei PISA dan juga evaluasi UN terdapat hubungan kuat antara kondisi sosial ekonomi siswa dengan capaian hasil UN atau skor nilai PISA," pungkasnya.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved