Breaking News:

KPK Perpanjang Masa Penahanan Mantan Kalapas Sukamiskin

Dua tersangka itu antara lain, Kalapas Sukamiskin 2016-2018 Deddy Handoko dan Direktur Utama PT Glori Karsa Abadi Rahadian Azhar.

Ilham Rian Pratama
Mantan Kalapas Sukamiskin Deddy Handoko usai diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan suap terkait pemberian fasilitas dan izin di Lapas Sukamiskin, Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (10/3/2020) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ilham Rian Pratama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperpanjang masa penahanan dua tersangka kasus dugaan suap terkait pemberiaan fasilitas atau perizinan keluar Lapas Kelas I Sukamiskin.

Dua tersangka itu antara lain, Kalapas Sukamiskin 2016-2018 Deddy Handoko dan Direktur Utama PT Glori Karsa Abadi Rahadian Azhar.

Penyidik memperpanjang masa penahanan mereka selama 40 hari.

Baca: Trik Agar Anak Lahap Santap MPASI

"Guna melengkapi berkas perkara terhitung sejak tanggal 20 Mei 2020 sampai dengan tanggal 28 Juni 2020 di Rutan Cabang KPK Kavling C1," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya, Senin (18/5/2020).

KPK telah menetapkan lima orang tersangka dalam pengembangan kasus tindak pidana korupsi pemberian dan penerimaan hadiah atau janji terkait dengan pemberian fasilitas atau perizinan keluar Lapas Klas I Sukamiskin pada Rabu (16/10/2019).

Baca: Pertengkaran Orangtua Pengaruhi Psikis Anak

Lima orang itu, yakni Kepala Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin (Maret 2018) Wahid Husein (WH), Kepala Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin (2016 sampai dengan Maret 2018) Deddy Handoko (DHA).

Selanjutnya, Direktur Utama PT Glori Karsa Abadi Rahadian Azhar (RAZ), Wawan, dan Fuad Amin (FA) yang pernah menjabat sebagai Bupati Bangkalan atau warga binaan.

Namun, Fuad telah meninggal dunia saat penyidikan berjalan.

Terkait dengan hal itu, KPK akan fokus menangani pada perkara yang melibatkan empat tersangka lainnya.

Baca: BMKG: Waspada Gelombang Tinggi Capai 6 Meter di Sejumlah Wilayah, Selasa 19 Mei 2020

Dalam konstruksi perkara dijelaskan bahwa tersangka Wawan menjadi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin Bandung sejak 17 Maret 2015 dengan pidana 7 tahun penjara terkait perkara penyuapan dalam penanganan sengketa Pilkada Kabupaten Lebak Tahun 2013 di Mahkamah Konstitusi (MK).

Di Lapas Sukamiskin, Wawan memiliki pendamping yang bertugas mengurus segala keperluan di antaranya izin berobat ke luar lapas, mengurus kebutuhan sehari-hari, membantu komunikasi, dan negosiasi dengan pihak lapas, bahkan berkomunikasi dengan pihak swasta di luar lapas.

Wawan mengenal tersangka Deddy pada 2017 dan Wahid pada 2018 sebagai Kepala Lapas Sukamiskin pada periode jabatannya masing-masing.

Baca: Misteri Kematian Penata Busana di Rumahnya Terungkap, Mobil Korban Dibawa Kabur oleh Teman

Selama ditempatkan di Lapas Sukamiskin periode 26 September 2016 sampai 14 Maret 2018, Wawan diduga telah memberi Mobil Toyota Kijang Innova Putih Reborn G Luxury dengan nomor polisi D 101 CAT kepada Deddy.

Kepada Wahid selama periode 14 Maret 2018 - 21 Juli 2018, Wawan diduga telah memberikan uang Rp75 juta.

Pemberian-pemberian tersebut diduga memiliki maksud untuk mendapatkan kemudahan izin keluar Lapas dari Deddy dan Wahid saat menjadi Kalapas Sukamiskin. Izin yang berusaha didapatkan adalah izin berobat ke luar lapas maupun izin luar biasa.

Penulis: Ilham Rian Pratama
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved