Breaking News:

Virus Corona

Haris Azhar Kritik Pernyataan Menteri Airlangga: Masyarakat Jadi Ajang Uji Coba Kebijakan . . .

Pemerintah tidak mempunyai skema tahapan penanganan pandemi Covid-19 mulai dari tahap awal hingga tahapan akhir

Tribunnews.com/ Igman Ibrahim
Direktur Lokataru Foundation, Haris Azhar. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Glery Lazuardi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Eksekutif Lokataru Foundation, Haris Azhar, menilai Indonesia tidak mempunyai desain penanganan pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Dia menilai, pemerintah tidak mempunyai skema tahapan penanganan pandemi Covid-19 mulai dari tahap awal hingga tahapan akhir menuju new normal atau kenormalan baru.

Dia menyoroti pernyataan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang menyatakan apabila new normal gagal, maka pemerintah akan mengembalikan status ke Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Kami tidak dapat grand design. Tahapan pertama yang diharapkan masuk tahapan kedua, tahapan ketiga, dan masuk new normal. Negara harusnya mempunyai time frame. Tiga bulan selesai tahapan ini," kata dia di "Serial Diskusi Daring #3, Menjaga Integritas Solidaritas Berintegritas Menghadapi Pandemi", Kamis (28/5/2020).

Baca: Maaf, Layanan Perpanjangan SIM Masih Tutup, karena Diperpanjang Sampai 29 Juni 2020

Dia menjelaskan, pemerintah seharusnya memposisikan diri untuk menyelamatkan manusia selama masa pandemi tersebut.

Semua kebijakan yang diambil harus dalam rangka menyelamatkan manusia. Menyelematkan manusia tidak hanya kesehatan, tetapi juga pekerjaan.

Baca: Seperti Main Tebak-tebakan, Kebijakan Jokowi Soal Corona Dinilai Tidak Jelas

"Pendekatan kesehatan untuk menangani manusia. Tidak ada negoisasi. Tidak boleh ada dirugikan dibandingkan kelompok lain. Tujuan menyelamatkan manusia," kata dia.

Namun, kata dia, yang terjadi justru sebaliknya. Dia mengungkapkan masyarakat seolah-olah menjadi percobaan setiap kebijakan pemerintah.

Baca: Nggak Cuma di Bandara, Penumpang Kereta Jarak Jauh Tujuan Jakarta Juga Wajib Punya SIKM

"Masyarakat bingung. Lagi deg-degan pemerintah bikin apalagi. (Kebijakan,-red) Seenaknya bisa membahayakan," kata dia.

Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved