Breaking News:

Virus Corona

Wacana Pembukaan Sekolah Saat Pandemi, Politikus PKS: Jangan Jadikan Anak-anak Kelinci Percobaan

Netty Prasetiyani menilai wacana pembukaan sekolah di tengah pandemi Covid-19 sebagai ketergesaan yang berbahaya.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
ILUSTRASI aturan baru di sekolah, di tengah wabah virus corona ---- Siswa sekolah dasar negeri 002 Ranai melakukan aktivitas belajar menggunakan masker di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Indonesia, Selasa (4/2/2020). Proses belajar mengajar kembali berlangsung setelah sebelumnya sempat akan diliburkan selama 14 hari terkait lokasi observasi WNI dari Wuhan, China yang berada di Natuna. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Tim Covid-19 Fraksi PKS DPR RI Netty Prasetiyani menilai wacana pembukaan sekolah di tengah pandemi Covid-19 sebagai ketergesaan yang berbahaya.

Menurutnya, jika wacana ini dipaksakan justru akan menjadi pertaruhan besar bagi keselamatan generasi penerus bangsa di masa depan. Dia meminta agar kebijakan ini ditunda.

"Pembukaan sekolah di saat pandemi sama saja dengan mempertaruhkan nyawa generasi penerus bangsa. Kita tahu hingga kini transmisi Covid-19 belum terkendali, kasus baru masih terus terjadi dan kurvanya juga masih belum melandai. Saya keberatan jika anak-anak seperti dijadikan kelinci percobaan untuk menguji kebijakan pemerintah," ujar Netty, dalam keterangannya, Minggu (31/5/2020).

Kekhawatiran Netty bukan tanpa alasan.

Dia merujuk kepada pernyataan yang disampaikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada 18 Mei 2020 bahwa penularan Covid-19 kepada anak-anak Indonesia tergolong cukup tinggi.

Berdasarkan keterangan IDAI diketahui bahwa 584 anak dinyatakan positif mengidap Covid-19 dan 14 anak di antaranya meninggal dunia. Sementara jumlah anak yang meninggal dunia dengan status pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 berjumlah 129 orang dari 3.324 anak PDP.

Selain itu, Netty juga berpedoman kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) yang menyampaikan bahwa hingga 28 Mei 2020, total anak-anak yang terpapar Covid-19 mencapai 5 persen dari total kasus yang dilaporkan ke pemerintah.

"Kasus kematian anak Indonesia karena Covid-19 paling tinggi se-Asia. Jika tidak menyiapkan seluruh faktor pendukungnya, maka sekolah dapat menjadi mata rantai baru penularan Covid-19. Kita perlu pikirkan bagaimana cara anak berangkat ke sekolah, bagaimana anak berinteraksi dengan sesamanya dan para guru, bagaimana faktor kebersihan sarana dan prasarana sekolah, bagaimana mengatur rasio jumlah siswa per kelas," ungkapnya.

Anggota Komisi IX DPR RI tersebut juga meminta meminta pemerintah belajar dari negara lain, seperti Perancis dan Korea Selatan.

"Ketika Perancis mulai membuka sekolah, ditemukan ada 70 kasus baru. Sementara di Korea Selatan ada 79 kasus baru. Apa kita ingin seperti itu juga? Janganlah coba-coba kebijakan yang pertaruhannya adalah nyawa," tegasnya.

Apalagi, kata Netty, berdasarkan laporan KPAI baru ada 18 persen sekolah yang siap dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Sementara 80 persen lebih lainnya tidak siap.

"Ini membuktikan bahwa pembukaan sekolah saat ini berbahaya dan penuh pertaruhan, bahkan banyak orangtua yang khawatir jika pembukaan sekolah tetap dipaksakan," tandasnya.

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved