Breaking News:

Kasus Novel Baswedan

Jaksa: Dalil Pembelaan Penasihat Hukum Terdakwa Penganiayaan Novel Baswedan Tidak Beralasan

Tim Jaksa Penuntut Umum memohon kepada majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara agar menolak semua nota pembelaan Ronny Bugis dan Rahmat kadir.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menjawab pertanyaan saat wawancara khusus dengan Tribunnews di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (19/6/2020). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Glery Lazuardi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tim Jaksa Penuntut Umum memohon kepada majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara agar menolak semua nota pembelaan (pledoi) tim penasihat hukum terdakwa penganiayaan penyidik KPK, Novel Baswedan.

Permohonan itu disampaikan tim Jaksa Penuntut Umum pada saat membacakan tanggapan terhadap pledoi atau replik di sidang yang digelar di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Senin (22/6/2020) siang.

“Kami mempertimbangkan berbagai aspek, yuridis, sosiologis, dan keadilan. Kami memohon majelis hakim menolak semua nota pembelaan terdakwa,” kata tim Jaksa Penuntut Umum pada saat membacakan replik.

Baca: Kasus Penyerangan Novel Baswedan, KPK BIsa Terapkan Obstruction of Justice

Dalam persidangan ini, tim Jaksa Penuntut Umum menjelaskan tanggapan terhadap pledoi tim penasihat hukum terdakwa, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis.

Setidaknya terdapat lima unsur yang menjadi sorotan di replik tersebut.

“Kami memberikan tanggapan berdasarkan fakta terungkap di persidangan. Kami tetap berpegang pada surat tuntutan, seperti yang sudah dibacakan,” katanya.

Unsur pertama, Jaksa menegaskan perbuatan Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis mempunyai hubungan antara satu dengan yang lain.

Menurut Jaksa, ada kesatuan niat antara Rahmat Kadir dan Ronny Bugis.

Meskipun, kata Jaksa, di persidangan, Rahmat Kadir mengungkapkan upaya penyiraman air aki dicampur air ke badan Novel Baswedan yang kemudian ternyata mengenai muka itu merupakan perbuatan atas inisiatif diri sendiri dan tidak ada yang mengetahui hal niat tersebut.

Baca: Sidang Lanjutan Penganiayaan Novel Baswedan Beragenda Pembacaan Replik dari Jaksa

“Dengan demikian dalil penasihat hukum terdakwa perbuatan secara mandiri, tidak beralasan. Sehingga tidak dapat kami terima,” kata Jaksa.

Unsur kedua, Jaksa mengungkapkan perbuatan terdakwa Rahmat Kadir tidak dilakukan secara spontan.

Hal ini, karena yang bersangkutan melakukan pencarian alamat tempat tinggal Novel Baswedan melalui situs pencarian Google.

Baca: Komnas HAM Diminta Lanjutkan Temuan Tentang Penyalahgunaan Wewenang Terkait Kasus Novel Baswedan

Selain itu, dia melanjutkan, setelah mendapatkan alamat tempat tinggal Novel, Rahmat Kadir melakukan pemantauan ke kediaman itu.
Rahmat meminjam sepeda motor Ronny Bugis untuk mengintai aktivitas di sekitar kediaman Novel.

Hal lainnya yang menunjukkan perbuatan Rahmat Kadir tidak dilakukan secara spontan berupa upaya menyiapkan cairan asam sulfat yang ditambahkan dengan air ke dalam mug kaleng motif loreng hijau.

Cairan asam sulfat diambil di Pool Angkutan Mobil Gegana Polri, pada 10 April 2017.

“Tidak bisa dikatakan tindakan spontan. Perbuatan dilakukan secara spontanitas tidak beralasan sehingga tidak dapat diterima,” kata Jaksa.

Unsur ketiga, Jaksa menilai dalil tim penasihat hukum yang menyatakan perbuatan terdakwa tidak ada maksud mencelakai korban tidak dapat diterima.

Jaksa menjelaskan, berdasarkan fakta di persidangan diperoleh fakta Rahmat Kadir sudah mempunyai keinginan untuk memberi pelajaran kepada Novel Baswedan.

Pada April 2017, Rahmat Kadir mencari alamat rumah Novel dengan maksud untuk menyerang dan menimbulkan luka berat.

Upaya itu dilakukan karena Rahmat Kadir diyakini Jaksa membenci Novel karena dianggap telah mengkhianati dan melawan institusi Polri.

Keinginan itu dihubungkan dengan fakta terjadi penganiayaan berat berupa menyiramkan air keras kepada Novel, pada 11 April 2017.

Perbuatan itu mengakibatkan Novel mengalami luka berat, yaitu mengalami penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan, kerusakan pada selaput bening (kornea) mata kanan dan kiri yang berpotensi menyebabkan kebutaan atau hilangnya panca indera penglihatan.

“Dengan demikian dalil penasihat hukum tidak ada maksud terdakwa mencelakai korban tidak beralasan sehingga tidak dapat diterima,” ujar Jaksa.

Unsur keempat, Jaksa menjelaskan, perbuatan terdakwa menyiram air keras telah berakibat Novel mengalami luka berat.

Luka berat berpotensi menyebabkan kebutaan atau hilangnya panca indera penglihatan.

Sebagaimana VISUM ET REPERTUM Nomor : 03/VER/RSMKKG/IV/2017 tertanggal 24 April 2017 yang dikeluarkan oleh Rumah sakit Mitra Keluarga

“Dengan demikian dalil penasihat hukum tidak beralasan sehingga tidak dapat diterima,” kata Jaksa.

Terakhir, unsur kelima, Jaksa menyatakan dalil penasihat hukum, di mana Ronny Bugis hanya dijadikan sebagai alat oleh Rahmat Kadir melakukan tindak pidana tidak bisa diterima. Hal ini, karena dalil itu hanya diperoleh dari pengakuan Rahmat Kadir.

“Terdakwa hanya alat yang melakukan adalah Rahmat Kadir sebagai pelaku tunggal, itu pengakuan terdakwa Rahmat Kadir. Keterangan terdakwa hanya dapat dipergunakan untuk dirinya sendiri,” ujarnya.

Selain itu, Jaksa menambahkan penerapan Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP sebagaimana yang dituntut Jaksa Penuntut Umum di sidang beragenda pembacaan tuntutan sudah memenuhi unsur.

“Ada kesatuan niat di antara pelaku, walaupun berbeda (perbuatan,-red), tetapi ada hubungan satu dan yang lain,” tambahnya.

Rencananya, sidang beragenda pembacaan duplik atau tanggapan dari replik Jaksa Penuntut Umum akan dilakukan pada Senin 29 Juni 2020.

Untuk diketahui, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulete, dua terdakwa penyerangan penyidik KPK, Novel Baswedan dituntut pidana penjara selama 1 tahun.

Mereka masing-masing melakukan tindak pidana penganiayaan dengan rencana lebih dahulu yang mengakibatkan luka-luka berat seperti yang diatur dan diancam pidana dalam Pasal 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, sesuai dakwaan subsider Jaksa Penuntut Umum.

Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved