Breaking News:

Pengusul Swastanisasi IPDN Dinilai Tak Paham Sejarah

Plt Dirjen Polpum Kementerian Dalam Negeri Bahtiar menilai, usulan tersebut terlalu mengada-ada.

IPDN
Kampus sekolah kedinasan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). 

Laporan Reporter Tribunnews, Hasanuddin Aco 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dalam rapat koordinasi antara Komisi II dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, seorang anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Wahyu Sanjaya mengusulkan agar Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN) menjadi perguruan tinggi swasta.

Alasannya, anggaran IPDN cukup boros mencapai Rp 539 miliar dan tidak efektif. Atas usulan itu, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pun angkat suara.

Kepala Pusat Penerangan Kemendagri yang juga Plt Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri (Plt Dirjen Polpum Kemendagri), Bahtiar menilai usulan tersebut terlalu mengada-ada.

Bahkan, yang mengusulkan seperti tidak paham akan sejarah berdirinya sekolah penghasil pamong tersebut.

Anggota DPR yang usulkan itu, juga sepertinya tidak melihat realitas yang ada di lapangan.

Baca: IPDN Jadi Sekolah Kedinasan Terfavorit Tahun 2020

"Saya pikir yang mengusulkan itu seperti tidak mengerti sejarah pemerintahan Indonesia, khususnya sejarah dibentuknya IPDN," kata Bahtiar, di Jakarta, Kamis (24/6/2020).

Karenanya, Bahtiar menyayangkan ada anggota DPR yang mengusulkan agar IPDN dijadikan perguruan tinggi swasta.

Baca: 10 Daftar Sekolah Kedinasan Terfavorit, IPDN Nomor Satu Disusul STIS dan Poltekim

Kata dia, yang mengusulkan sama saja tidak menghargai para pendiri bangsa. Sekolah tinggi penghasil pamong itu, adalah jerih payah dari Bung Karno, Presiden RI pertama.

Pada 17 Maret 1956, sekolah penghasil pamong yang sekarang bernama IPDN diresmikan oleh Bung Karno di Malang, Jawa Timur. Sejak saat itu, IPDN berkiprah, menghasilkan para pamong pelayan rakyat.

Halaman
12
Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved