Breaking News:

PSBB di Jakarta

Legislator PKS : Dukung Kebijakan PSBB Gubernur DKI Karena Sejalan dengan Arahan Presiden Jokowi

Menurut legislator PKS kebijakan Gubernur DKI tentang PSBB sejalan dengan instruksi Presiden Jokowi saat sidang kabinet paripurna di Istana negara.

WARTAKOTA/Henry Lopulalan
Petugas gabungan Satpol PP, Dinas Perhubungan, Polisi dan TNI saat rajia penguna masker bagi warga yang melintas kawasan Bundaran HI, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/9/2020). Warga yang kedapatan tidak mengunakan masker atau pengunaan tidak bener di data. Setelah itu mereka di minta untuk hukuman sosial dengan menyapu mengunakan rompi yang bertuliskan Melanggar PSBB. (WARTAKOTA/Henry Lopulalan) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penerapan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta menuai berbagai macam respon, baik dari politisi hingga pemilik perusahaan Djarum yang mengirim surat keberatan atas kebijakan PSBB kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Terkait hal itu, anggota DPR RI Fraksi PKS Anis Byarwati menyatakan bahwa aksi yang dilakukan pemilik perusahaan Djarum tersebut merupakan haknya sebagai warga negara.

Anis mengajak masyarakat menunggu bagaimana sikap yang akan diambil Presiden Jokowi.

Menurutnya, kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tentang PSBB itu justru sejalan dengan instruksi Presiden Jokowi saat sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Selasa (7/9) lalu.

Saat itu, Presiden Jokowi menegaskan kunci dari ekonomi agar tetap baik adalah kesehatan yang baik, sehingga fokus penanganan Covid-19 adalah masalah kesehatan.

"Mestinya kita mendukung kebijakan yang diambil Gubernur DKI Jakarta karena sejalan dengan arahan Presiden Jokowi. Apalagi Jakarta adalah ibu kota yang merupakan barometer nasional," ujar Anis, dalam keterangannya, Rabu (16/9/2020).

Baca: Jakarta PSBB Ketat, Reaksi Haji Lulung : Menunggu Ditegur Corona atau Kesadaran Sendiri

Anis menilai kebijakan PSBB dipastikan akan memengaruhi roda perekonomian ibu kota.

Namun dalam pertimbangan Anis, nyawa warga jauh lebih berharga.

Apalagi menurutnya ekonomi bisa dipulihkan, namun orang mati tidak bisa dihidupkan.

"Tidak ada ekonomi jika tidak ada orang," kata dia.

Halaman
12
Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Theresia Felisiani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved