Breaking News:

Wacana Penggantian Nama Jawa Barat Jadi Tatar Sunda Kembali Mengemuka, Emil: Perlu Ada Kesepakatan

Penggunaan nama Sunda adalah sebuah langkah nasionalisme. Sunda bukan sebatas suku, tetapi nama geografis.

Warta Kota/Muhammad Azzam
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil konferensi pers di Kantor Bupati Bekasi, Jumat (4/9/2020) 

Pengkajian sebelumnya kata dia bisa dilihat dulu plus minusnya seperti apa tapi hakikatnya kenapa tidak kalau lebih mendatangkan manfaat.

"Saya harapkan tokoh-tokoh yang punya inisiasi perubahan nama bisa diskusi dengan kami," katanya.

Menanggapi wacana pergantian nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda atau Tatar Sunda, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan sebagian besar masyarakat di Provinsi Jawa Barat harus lebih dulu mengerti bahwa Sunda bukanlah sebuah suku atau etnis, namun sebuah nama geografis.

Baca juga: Perjuangan Ridwan Kamil Yakinkan Vaksin Covid-19 Aman, Ada yang Menuding Pura-pura dan Berbohong

Gubernur dalam hal ini mengacu pada sebutan Lempeng Sunda yang merupakan bagian dari Lempeng Tektonik Eurasia, yang kini secara administratif meliputi Kalimantan, Jawa, Sumatera, bahkan sebagian Thailand, Filipina, Malaysia, Brunei, Singapura, Kamboja, dan Vietnam.

"Harus masyarakat ketahui, Sunda itu sebenarnya bukan etnisitas. Sunda itu wilayah geografis, meliputi Sumatera Kalimantan, dan Jawa, yang disebut Sunda Besar. Kemudian ada Sunda Kecil, yaitu Bali, Nusa Tenggara, dan lain-lain. Tapi dalam perjalanan sejarahnya, menjadi nama etnisitas. Nah kesepakatan ini belum semua orang paham, jadi masih panjang ya," kata Gubernur yang akrab disapa Emil ini.

Emil mengatakan pihaknya pun harus melihat dulu secara fundamental, bahwa Provinsi Jawa Barat, jika secara namanya, memang sudah bukan lagi Jawa bagian barat.

Jawa paling barat kini adalah Banten.

"Paling barat ya bukan Jawa Barat, tapi Banten," tuturnya.

Di Provinsi Jawa Barat katanya, terdapat tiga budaya utama, yakni Sunda Priangan, Kacirebonan di sebagian Pantura, dan Betawian di sekitar Bekasi dan Depok.

Penggunaan nama Sunda untuk nama provinsi bisa saja tidak jadi masalah untuk masyarakat Priangan.

Halaman
1234
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved