Breaking News:

Natal 2020

Perayaan Natal 2020 Dinilai Aman, Rohaniawan: Momentum Bersatu Atasi Pandemi Covid-19

Rohaniawan Antonius Benny Susetyo atau Romo Benny berharap perayaan tahun ini bisa menjadi momentum membangkitkan semangat anak bangsa terus bersatu.

Tribun Jateng/Hermawan Handaka
Umat Katolik melaksanakan ibadah Misa Natal di Gereja Bongsari, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (24/12/2020). Di tengah pandemi Covid-19, jumlah jemaat yang datang ke gereja dibatasi untuk mencegah penularan Covid-19. Jemaat yang ingin mengikuti ibadah Misa Natal sebelumnya sudah mendaftar terlebih dahulu karena adanya pembatasan. Tribun Jateng/Hermawan Handaka 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perayaan Natal di Indonesia tahun ini berjalan lancar meski dalam kondisi sulit karena pandemi

Rohaniawan Antonius Benny Susetyo atau Romo Benny berharap perayaan tahun ini bisa menjadi momentum membangkitkan semangat anak bangsa untuk terus bersatu.

Menurut dia, semua pihak, satu sama lain harus bisa menyingkirkan segala perbedaan. 

Baca juga: Jasa Marga Catat 483 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jabodetabek di Libur Natal 2020

Baca juga: Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto Buat Pohon Natal Setinggi 6 Meter dari Tampah Bekas

Romo Benny meyakini, dengan semangat persatuan dan kesatuan, semuanya bisa mengatasi pandemi

"Ke depan dalam mengatasi Covid-19 semua perbedaan kita tinggalkan dulu dan kita bersama bersatu bagaimana mengatasi Covid-19 dengan kesadaran bersama untuk satu visi dalam kebersamaan karena kita membutuhkan kebersamaan semua anak bangsa," kata Romo Benny dalam pernyataannya, Sabtu (26/12/2020).

Dia mengatakan bangsa Indonesia ke depan harus mengembalikan roh Bhinneka Tunggal Ika sehingga anak bangsa bisa berpikir, bertindak, dan berelasi untuk kepentingan bersama. 

Satu sama lain bisa saling menghargai, menghormati, hidup bersaudara, saling membantu, dan menjadikan agama inspirasi bagi kebaikan bersama. 

Baca juga: Natal di Tengah Pandemi, Perajin Patung Rohani di Pohsarang Kediri Tetap Banjir Pesanan

Romo Benny juga mengajak semua kalangan saling menahan diri, tidak mengeluarkan pernyataan-pernyataan ujaran kebencian yang berpotensi memecah belah. 

Menurutnya, ujaran kebencian muncul satu di antaranya karena faktor orang bersembunyi dari realitas kebenaran.

Hal itu menunjukan seseorang tidak memiliki kepatuhan etika publik. 

"Paling bahaya mereduksi nilai kebenaran dalam kedangkalan. Ke depan dibutuhkan pendidikan literasi dan pendidikan kristis," pungkasnya.(Willy Widianto) 

Editor: Theresia Felisiani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved