Breaking News:

Peringatan Jokowi: Jangan Sampai Ada Bencana Baru Pontang-panting dan Saling Menyalahkan

Menurut Presiden aspek lainnya selain pencegahan dan mitigasi bencana juga tidak kalah penting, misalnya penanganan.

TRIBUNNEWS/FITRI WULANDARI
Presiden Jokowi di peresmian Bank Syariah Indonesia (BSI), Senin (1/2/2021) 

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa kunci utama dalam mengurangi risiko bencana adalah pencegahan dan mitigasi.

Jangan sampai ada keterlambatan dalam mitigasi bencana.

"Yang selalu saya sampaikan berulang-ulang,  pencegahan-pencegah, jangan terlambat, jangan terlambat," kata Presiden dalam Peresmian Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2021 di Istana Negara, Jakarta, Rabu, (3/3/2021).

Menurut Presiden aspek lainnya selain pencegahan dan mitigasi bencana juga tidak kalah penting, misalnya penanganan.

Hanya saja kata dia, jangan sampai langkah atau strategi yang dilakukan hanya bersifat reaktif saja.

"Kita harus persiapkan diri dengan antisipasi yang betul-betul terencana dengan baik, detil," katanya.

BANTUAN SEMBAKO - Sejumlah warga menerima sembako yang diturunkan dari helikopter milik TNI AL di Perbatasan Desa Ulumanda dan Desa Pompenga kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, Sulbar, Jumat (22/1/2021). Antusiasme warga menyambut sembako tersebut sehingga melakukan gotong royong. Diketahui sembako merupakan bahan makanan seperti beras, minyak, mie instan dan popok bayi. Desa Ulumanda dan Desa Pompenga merupakan desa yang terisolasi akibat longsor saat terjadi bencana gempa di Majene. TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR
BANTUAN SEMBAKO - Sejumlah warga menerima sembako yang diturunkan dari helikopter milik TNI AL di Perbatasan Desa Ulumanda dan Desa Pompenga kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, Sulbar, Jumat (22/1/2021). Antusiasme warga menyambut sembako tersebut sehingga melakukan gotong royong. Diketahui sembako merupakan bahan makanan seperti beras, minyak, mie instan dan popok bayi. Desa Ulumanda dan Desa Pompenga merupakan desa yang terisolasi akibat longsor saat terjadi bencana gempa di Majene. TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR (TRIBUN TIMUR/TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR)

Lebih jauh Presiden mengatakan bahwa kebijakan nasional dan kebijakan daerah harus sensitif terhadap kerawanan bencana.

Kebijakan dalam penanganan bencana sudah ada dalam rencana induk penanggulangan bencana 2020-2024 melalui Perpres 87 tahun 2020. 

Baca juga: Presiden Jokowi: Indonesia Negara Rawan Bencana

"Jangan ada bencana baru kita pontang panting, ribut atau bahkan saling menyalahkan. Seperti itu tidak boleh terjadi," kata Presiden.

Hanya saja kata Kepala Negara penanganan bencana tidak berhenti pada adanya rencana induk dalam Perpres 87/2020.

Poin penting dalam penanggulangan bencana bukan terletak pada cetak biru atau gran design saja. Melainkan juga pada peraturan turunan yang dibuat.

"Dalam perencanaan-perencanaan termasuk tata ruang yang sensitif dan perhatikan aspek kerawanan bencana. Serta tentu saja dilanjutkan dengan audit dan pengendalian kebijakan dan tata ruang yang berjalan di lapangan, bukan di atas kertas saja. Yang juga sudah berulang-ulang saya sampaikan," pungkasnya. 

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved