Breaking News:

PKS Desak Pemerintah Optimalkan Pemanfaatan PLTS

Menurutnya, Indonesia memiliki harta karun dari sumber energi matahari yang sangat besar sehingga sayang jika tidak dimanfaatkan.

ist
Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Pulau Karampuang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi VII DPR RI fraksi PKS, Mulyanto mendesak pemerintah untuk menggenjot pemanfaatan listrik dari sumber energi matahari atau pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebagai motor bagi pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT).

Menurutnya, Indonesia memiliki harta karun dari sumber energi matahari yang sangat besar sehingga sayang jika tidak dimanfaatkan.

“Kita ini kan negara yang dilalui garis khatulistiwa, dimana matahari bersinar sepanjang waktu. Sehingga sayang jika karunia tersebut tidak dimanfaatkan secara optimal," ujar Mulyanto kepada wartawan, Kamis (11/3/2021).

Mulyanto menjelaskan, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memiliki potensi energi surya mencapai lebih dari 200 GW.

Baca juga: Jatuh-Bangun Suryaty Berbisnis SPBU Shell, Kini Punya 5 Outlet 

Sementara sampai tahun 2020, pemanfataan listrik dari sumber energi ini baru mencapai 150 MW atau sebesar 0,07%-nya. Jumlah tersebut masih sangat kecil dibanding pemanfaatan sumber energi lain.

Selain itu, tambah Mulyanto, PLTS memiliki keunggulan dari segi fleksibilitas lokasi pembangkit.

Baca juga: Kapolri Baru Diharapkan Tuntaskan Kasus Pidana KSP Indosurya

"Tidak seperti sumber energi lain yang sangat rigid terkait lokasi pembangkitnya. Bahkan panel listrik energi surya ini dapat dipasang di atas atap rumah atau kantor," ucapnya.

"Dan yang utama, karena perkembangan teknologi harga energi surya terus turun dan semakin kompetitif," imbuhnya.

Mulyanto kembali menjelaskan, menurut data Kementerian ESDM, pada tahun 2013 harga listrik dari sumber tenaga surya sebesar 20 sen dolar (per kWh). Lima tahun terakhir harganya menurun sampai separonya menjadi 10 sen.

Dia mencontohkan, PLTS Apung di Cirata harganya 5,8 sen dolar (per kWh). Bahkan, diinformasikan ada calon investor yang berminat untuk investasi pembangunan PLTS di Tanah Air dengan harga listrik hanya sebesar 4 sen dolar per kWh.

Menurutnya, hal itu sangat kompetitif dibanding energi panas bumi atau fosil.

Karenanya kini saatnya pemerintah menggenjot pengembangan harta karun energi yang berlimpah ini untuk mengejar target EBT 23 persen di tahun 2025, yang tinggal 4 tahun lagi.

Khususnya untuk daerah-daerah defisit listrik. Jangan sampai di daerah Indonesia Timur dan pulau-pulau kecil, masih belum tersentuh listrik.

"Kehadiran PLTS dapat menjadi salah satu solusi mengatasi masalah gap distribusi ini," pungkas Mulyanto.

Penulis: chaerul umam
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved