Breaking News:

Gejolak di Partai Demokrat

Pasek Bongkar Skenario SBY Agar Hanya Dirinya yang Penuhi Syarat Maju Jadi Ketum di Kongres 2015

Gede Pasek Suardika mengungkap cerita internal dibalik Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di Surabaya pada 2015 silam. 

Tribunnews/Irwan Rismawan
Sekjen Ormas Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), I Gede Pasek Suardika berpose usai wawancara khusus di Kantor Tribun Network di Jakarta, Jumat (19/3/2021). Tribunnews/Irwan Rismawan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Jenderal Pimpinan Nasional Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) Gede Pasek Suardika mengungkap cerita internal dibalik Kongres Partai Demokrat di Surabaya pada 2015 silam. 

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kala itu maju kembali mencalonkan diri sebagai ketua umum partai berlambang mercy tersebut. 

Padahal sebelumnya, SBY berjanji hanya akan meneruskan sisa jabatan dari Anas Urbaningrum hingga 2015.

Anas sendiri mundur karena ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. 

"Jadi ceritanya di KLB di Bali (2013) itu pun ada kesepakatan pak SBY hanya sampai 2015, meneruskan sisa jabatan mas Anas. Setelahnya akan beliau berikan kepada kader-kader lain yang berpotensi. Hanya di 2015 ternyata beliau maju lagi," ujar Gede Pasek saat berbincang dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra, Jumat (19/3/2021).

Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, dan Sekjen Partai Demokrat, Edi Baskoro, memukul gong saat pembukaan rapat koordinasi (Rakornas) Partai Demokrat di Sentul, Jawa Barat, Sabtu (23/7/2011). Rakornas dimaksudkan untuk melakukan konsolidasi secara nasional di tengah masalah yang mendera partai tersebut karena terkuaknya kasus suap pembangunan wisma atlet SEA Games di Palembang, Sumatera Selatan, yang menyeret mentan bendahara Partai Demokrat Mohammad  Nazaruddin. (tribunnews/herudin)
Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, dan Sekjen Partai Demokrat, Edi Baskoro, memukul gong saat pembukaan rapat koordinasi (Rakornas) Partai Demokrat di Sentul, Jawa Barat, Sabtu (23/7/2011). Rakornas dimaksudkan untuk melakukan konsolidasi secara nasional di tengah masalah yang mendera partai tersebut karena terkuaknya kasus suap pembangunan wisma atlet SEA Games di Palembang, Sumatera Selatan, yang menyeret mentan bendahara Partai Demokrat Mohammad Nazaruddin. (tribunnews/herudin) (TRIBUNNEWS/HERUDIN)

Gede Pasek juga tak habis pikir, sebab dalam Kongres di Surabaya tahun 2015 itu terdapat skenario-skenario yang melanggengkan SBY untuk menjadi orang nomor satu di Demokrat. 

Salah satunya dengan membuat tata tertib yang membuat hanya SBY yang memenuhi syarat untuk menjadi ketua umum. 

"Bayangkan ketua umum bapaknya (SBY), sekjen anaknya (Ibas) dan maju lagi di 2015. Mau jadi ketua umum sampai membuat tatib agar dirinya saja yang memenuhi syarat. Marzuki Alie pun tidak memenuhi syarat. Waktu itu dibuat oleh tim khusus, sembunyi-sembunyi, nggak boleh ada yang tahu, tapi kita tahu," ungkapnya. 

Beberapa syarat itu antara lain yang boleh menjadi calon ketua umum hanyalah pemilik hak suara.

Maka itu meliputi ketua umum sebelumnya, pengurus DPP, DPD, serta DPC. 

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved