Breaking News:

Kemendikbud: Tingkat Literasi Siswa Indonesia di Peringkat PISA Masih Rendah

Totok Suprayitno membeberkan hasil penilaian Programme for International Student Assessment (PISA) terkait tingkat literasi membaca siswa di Indonesia

Tribunnews.com/ Rina Ayu
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Kemendikbub Totok Suprayitno, di Kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (8/5/2018). 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Balitbang dan Perbukuan Kemendikbud Totok Suprayitno membeberkan hasil penilaian Programme for International Student Assessment (PISA) terkait tingkat literasi membaca siswa di Indonesia.

Totok mengungkapkan tingkat literasi Indonesia berdasarkan PISA masih rendah.

"Terakhir kemarin tahun 2018 menunjukkan bahwa 70 persen anak-anak kita berada di bawah level kompetensi minimum dalam membaca, 71 persen di dalam matematika, 60 persen sains," ucap Totok dalam Rakornas Bidang Perpustakaan 2021 secara daring, Senin (22/3/2021).

Sehingga, standar tingkat literasi siswa di Indonesia masih berada di level 2 PISA.

Baca juga: Klarifikasi Kemendikbud soal Surat Pemanggilan CPNS 2019: Itu Tidak Benar Abaikan Saja

Siswa pada level ini, menurut Totok, hanya mampu memahami yang tertulis di dalam teks.

"Jadi anak-anak kita belum mampu berpikir tingkat tinggi. Ini masih tingkat rendah. Level 2," ungkap Totok.

Di lingkup negara ASEAN, skor PISA Indonesia hanya lebih baik dari Filipina. Bahkan, provinsi DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta jauh lebih baik dari skala nasional.

Baca juga: Kemendikbud Izinkan Sekolah Gunakan Dana BOS untuk Tambah Koleksi Buku di Perpustakaan

PISA juga mengungkapkan tren dan permasalahan hasil belajar pendidikan dasar dan menengah selama 10 tahun terakhir cenderung stagnan. Indonesia masih konsisten sebagai salah satu negara dengan peringkat PISA terendah.

"Tingkat tinggi itu 4,5,6 yang mampu menginterpretasikan, mengambil logic membaca secara kritis. Nah kalau ini dibiarkan warning seperti ini dibiarkan. Maka kita sesungguhnya telah membekali anak-anak kita untuk keterampilan yang tidak akan dibutuhkan nanti," ungkap Totok.

Baca juga: Kemendikbud Terbitkan Pedoman Operasional Beban Kerja Dosen Tahun 2021

Seperti diketahui, hasil survei sosial ekonomi nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik 2019 merilis data yang menyebutkan hanya sekitar 13,02 persen penduduk usia lima tahun ke atas yang datang ke perpustakaan.

Bahkan, dominasi bacaan yang dibaca mereka ketika mengunjungi perpustakaan adalah buku pelajaran (80,83 persen), selain kitab suci (73,65 persen).

Selain angka kunjungan ke perpustakaan yang rendah, kurangnya ragam bahan bacaan yang dibaca siswa juga berdampak pada rendahnya aktivitas literasi membaca secara nasional.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved