Breaking News:

Mabes Polri Diserang Teroris

Cerita Mantan Napi Teroris Ungkap Temannya Ditinggal Istri Karena Menolak Gabung Kelompok Teror

Mantan narapidana terorisme, Haris Amir Falah, bercerita bahwa dulu kelompok teroris tidak melibatkan wanita dan anak-anak dalam melancarkan aksi.

PERSDA NETWORK/BINA HARNANSA
Ilustrasi densus 88. 

Sebagaimana diketahui, serangan teror bom bunuh diri di Katedral Makassar pada Minggu (28/3/2021) melibatkan pasangan suami istri berusia muda.

Baca juga: Komisi III DPR Minta Kapolri, BIN, Hingga BNPT Usut Tuntas Kasus Teror di Makassar dan Mabes Polri

Sementara, serangan ke Mabes Polri pada Rabu (31/3/2021) dilakukan seorang wanita yang juga masih berusia 25 tahun.

Dengan kondisi tersebut, Wawan mengatakan, orangtua berperan penting untuk mengawasi anak-anak mereka.

Hal ini lantaran orangtua mengetahui watak anak.

"Yang biasanya riang jadi pemurung, yang biasanya nggak pergi kemana-mana tahu-tahu pulang minta uang. Dia hanya berbicara dengan networking yang ada di media sosial. Karena dia didrive di situ untuk melakukan apapun yang mereka bisa lakukan terkait dengan entah itu perakitan bom dan juga diisi dari pemikiran-pemikiran yang keliru dan juga pembenaran dari gerakannya itu," katanya.

Baca juga: Kementerian PPPA: Perempuan Rentan Terjerumus Aksi Radikalisme dan Terorisme

BIN, tutur Wawan, juga terus melakukan patroli siber.

Hal ini sebagai bagian mencegah penyebarluasan paham-paham radikal melalui dunia maya.

"Banyak juga yang kita ingatkan," tuturnya.

Wawan menambahkan alasan generasi milenial menjadi target utama perekrutan oleh kelompok teroris.

Wawan mengatakan, kelompok milenial tidak banyak tanggungan, lebih berani dan emosional.

"Dan lebih berpikir pragmatis apalagi ada iming-iming masuk surga dan lain-lain," kata Wawan.

Penulis: Ilham Rian Pratama
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved