Mabes Polri Diserang Teroris

Kompolnas Soroti CCTV dan Prosedur Penggeledahan Pengunjung di Mabes Polri 

Kompolnas minta Polri periksa rekaman CCTV sebelum aksi ZA, guna mengetahui apa ZA sebelumnya sudah pernah datang ke Mabes Polri.

Penulis: Gita Irawan
Tribunnews/Herudin
Pasukan Brimob Polri melakukan penyisiran dan penjagaan ketat usai penyerangan teroris di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (31/3/2021). Tribunnews/Herudin 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Harian Kompolnas Irjen Pol (Purn) Benny Mamoto menyoroti rekaman CCTV dan prosedur penggeledahan pengujung terkait dengan ZA yang melakukan aksi teror di Mabes Polri beberapa waktu lalu.

Terkait rekaman CCTV, kata Benny, petugas perlu memeriksa rekaman CCTV beberapa hari sebelum aksi tersebut.

Hal itu untuk melihat apakah ZA sudah pernah mendatangi Mabes Polri sebelum melakukan aksinya atau tidak 

Isi surat wasiat ZA, terduga teroris penyerang Mabes Polri, dan Lukman, pelaku bom bunuh diri, sama. Keduanya menyebut bank riba.
Isi surat wasiat ZA, terduga teroris penyerang Mabes Polri, dan Lukman, pelaku bom bunuh diri, sama. Keduanya menyebut bank riba. (ISTIMEWA via Tribun Jakarta dan Tribun Timur)

Benny menjelaskan dalam sejumlah aksi teror pelaku kerap melakukan survei lokasi untuk menjalankan aksinya sehingga pelaku tahu persis di mana ia akan menjalankan aksinya

Hal tesebut disampaikannya dalam tayangan CrossCheck From Home yang tayang perdana di kanal Youtube Medcom.id pada Minggu (4/4/2021).

"Dalam konteks ini, perlu dievaluasi, kalau menurut saya, personel yang bertugas saat itu sejauh mana kesiapsiagaannya, kewaspadaannya," kata Benny.

Ia juga mengatakan saat ini tengah menunggu rekaman CCTV di sekitar Mabes Polri yang memperlihatkan pihak yang mengantar ZA.

Karena menurutnya, dengan adanya rekaman tersebut maka kasus tersebut bisa dikembangkan untuk melacak keberadaan orang yang mengantar ZA.

"Sebenarnya tinggal kami menunggu bagaimana CCTV yang merekam ketika dia datang dari jalan, turun itu naik angkutan umum, ojek online, atau ada yang mengantar. Kalau ada yang mengantar, identitas motor atau mobil bisa dikembangkan untuk nanti mengidentifikasi," kata Benny.

Baca juga: Kapolri: Paskah 2021 Aman, 60 Terduga Teroris Ditangkap, Benda Mencurigakan di Gereja GPIB Efftha

Selain itu, kata Benny, satu hal lain yang juga perlu disoroti adalah prosedur penggeladahan dan pemeriksaan pengujung sebelum masuk ke dalam Mabes Polri.

Benny mengatakan, untuk memeriksa pengunjung perempuan seharusnya dilakukan oleh Polisi Wanita atau Polwan.

Namun, kata Benny, pada saat kejadian tidak melihat ada Polwan.

"Ketika tamu itu wanita dan diperlukan penggeledahan, pemeriksaan, baik menggunakan alat deteksi maupun secara fisik langsung, itu harus dilakukan oleh petugas polwan, ini kami lihat tidak ada," kata Benny.

Polda Metro Jaya perketat keamanan pasca adanya insiden aksi teror di Mabes Polri, Rabu (31/3/2021) kemarin sore.
Polda Metro Jaya perketat keamanan pasca adanya insiden aksi teror di Mabes Polri, Rabu (31/3/2021) kemarin sore. (Tribunnews.com/Rizki Sandi Saputra)

Benny mengungkapkan pihak-pihak tertentu bisa mempelajari cara kerja aparat di Mabes Polri misalnya dengan datang berkali-kali dan menggunakan pendekatan personal tertentu.

"Maka ketika dia membawa senjata, mungkin sudah tidak digeledah lagi," kata dia.

Namun demikian, kata Benny, ia menilai peralatan standard pengamanan di Mabes Polri sudah bagus.

"Tetapi semua itu akan kembali kepada personel yang bertugas," kata Benny.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved