Breaking News:

Polri Sebut Kelompok Teror Pintar Berkamuflase untuk Sebar Narasi Radikal

Kelompok teror disebutkan kerap berkamuflase agar dapat leluasa menyebarkan paham radikalisme secara langsung maupun melalui media sosial.

ist
Ilustrasi terorisme 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono menyampaikan kelompok teror disebutkan kerap berkamuflase agar dapat leluasa menyebarkan paham radikalisme secara langsung maupun melalui media sosial.

Caranya, kelompok teror membenturkan demokrasi atau kebebasan berpendapat jika penyebaran paham yang dianggap radikalisme itu dilarang atau dihentikan.

"Kelompok teror ini pintar sering berkamuflase mereka, yang didahului dengan narasi radikal mereka sebut sebagai bagian daripada kebebasan berpendapat. Ini hal hal seperti ini sering terjadi sekali," kata Brigjen Rusdi dalam diskusi daring, Minggu (4/4/2021).

Baca juga: Polri: Kelompok Teror Sudah Menyasar Anak Muda

Dia menuturkan pihaknya telah memantau sejumlah orang yang kerap vokal menyuarakan hal tersebut.

Padahal, Polri mengetahui betul latar belakang orang tersebut.

"Terjadi di masyarakat ketika dia bicara bahwa ini kebebasan berpendapat. Padahal kami di Polri tentunya bisa mengetahui latar belakang daripada kelompok-kelompok ini," jelas dia.

Baca juga: Polri Ungkap Paham Radikalisme Mulai Banyak Disebar di Media Sosial

Baca juga: Hujan Deras Warnai Penggeledahan Rumah di Mantrijeron, Densus 88 Angkut Barang Bukti Satu Truk

Rusdi menegaskan penindakan aksi teror tidak pernah mengancam demokrasi.

Menurutnya, hal itu bukanlah yang menjadi target penindakan Polri.

"Kami ingin menegaskan kembali bahwa penindakan aksi teror tidak mengancam demokrasi. Karena suara kritis itu tidak menjadi target sasaran daripada penanganan terorisme," ungkap dia.

Baca juga: Penampakan Buaya di Perumahan Bukit Cengkeh Berbunga Depok, di Pulau Tidung Bayi Hiu Disebar

Baca juga: Gegana Evakuasi Benda Mencurigakan di Limo Depok 

Atas dasar itu, Rusdi mengajak semua pihak untuk dapat membangun iklim demokrasi menjadi sehat.

"Tentunya kita sepakat bahwa di Indonesia kita membangun suatu demokrasi yang sehat. Demokrasi yang sehat adalah bagaimana demorasi di dalamnya toleransi pun hidup dengan sehat. Dengan cara cara seperti ini demokrasi yang sehat toleransi juga sehat maka kita dapat menjalankan bangsa dan negara ini bisa sesuai dengan yang kita cita citakan bersama," tukas dia.

Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Theresia Felisiani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved