Breaking News:

Penangkapan Terduga Teroris

Eks Napi Teroris Sebut Wasiat Zakiah Aini dan Lukman Narasi yang Dikembangkan Kelompok Hijrah

Sofyan mengatakan paham tersebut terlihat di antaranya dari pesan untuk menjauhi riba yang dikorelasikan dengan bank.

Tribun Timur/Sanovra
Aparat Brimob mengambil barang bukti saat melakukan penggeledahan rumah Lukman tersangka bom bunuh diri Gereja Katedral di Jl Tinumbu 1 lrg 132, Makassar, Senin (29/3/2021). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Gita Irawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan terpidana kasus terorisme Sofyan Tsauri menyoroti pesan dalam surat wasit pelaku teror di Mabes Polri Zakiah Aini dan pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar Lukman beberapa waktu lalu.

Menurut Sofyan hal yang menarik dari pesan di kedua surat tersebut adalah narasi paham salafi-jihadi yang tersirat di dalamnya.

Sofyan mengatakan paham tersebut terlihat di antaranya dari pesan untuk menjauhi riba yang dikorelasikan dengan bank.

Hal tersebut disampaikannya dalam Diskusi Online bertajuk Anak Muda dan Terorisme yang digelar Partai Solidaraitas Indonesia pada Senin (5/4/2021).

Baca juga: Nyanyian para Terduga Teroris: Buat Bom dari Uang Infaq, Incar Pom Bensin dan Pipa Gas Pengalengan 

Baca juga: Terduga Teroris Nabil Aljufri Rencanakan Ledakan Bom di Pom Bensin, Sudah Siapkan Tim Senyap

"Kita bisa lihat bagaimana Zakiah Aini maupun si Lukman pada bom Makassar, itu juga terlihat daripada salafi jihadinya itu misalnya jangan ikut pemilu, bahwa pemilu melahirkan hukum-hukum buatan manusia, kemudian melahirkan kemusyrikan, jauhi riba, dan lain sebagainya, ini kan narasi-narasi yang sebetulnya dikembangkan oleh kelompok fenomena hijrah," kata Sofyan.

Sofyan menjelaskan kelompok tersebut meyakini untuk memahami Al Quran dan Hadits bisa dilakukan tanpa harus memiliki perangkat keilmuan yang cukup.

Pola beragama tersebut, kata Sofyan, tampak dari sebagaian masyarakat urban yang enggan mengaji dan mengkaji Al Quran dan Hadits secara urut dan runut.

Sofyan jug mengatakan kebanyakan para teroris tidak memiliki mazhab atau referensi keilmuan.

Bahkan sebagaian, kata Sofyan, bersikap anti mazhab.

"Nah mereka, masyarakat urban ini kan tidak pernah belajar mengaji runut dan urut. Sehingga mereka lagi-lagi salah paham. Ini dimulai dari sini sebetulnya," kata Sofyan.

Berita terkait

Penulis: Gita Irawan
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved