Breaking News:

Virus Corona

Positif Rate 12 Persen, Epidemiolog: Pandemi Covid-19 Belum Bisa Dikendalikan, Jauh dari Target

Intervensi 3T dinilai tidak memadai. Padahal testing, tresing, isolasi dan karantina sangat efektif efektif untuk memutuskan penularan.

Tangkapan Layar YouTube Kompas TV
Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Situasi jalan raya ramai dan kerumunan tidak lagi terelakkan.

Beberapa informasi mengatakan ada pelonggaran karena terjadinya kasus penurunan penularan Covid-19.

Oleh karenanya, sebagian besar masyarakat merenggangkan protokol kesehatan.

Padahal menurut menurut ahli epidemiologi Indonesia dan Peneliti Pandemi dari Griffith University, Dicky Budiman, situasi pandemi Covid-19 belum bisa dikatakan baik.

Baca juga: Pandemi Covid-19, Masjid Agung Al-Azhar Gelar Bukber Drive-Thru

Hal ini diindikasikan dari positif rate yang masih berada di angka 12 persen. 

Tentu saja masih jauh dari target yang bisa dikendalikan yaitu 3 persen. Bahkan angka pada tanggal 4 Maret kasus kematian mencapai 427.

Meski bukan angka secara kumulatif, tapi itu menggambarkan jika yang terjadi di lapangan bisa lebih tinggi.

Menurut Dicky, penyebab dari kegagalan mengendalikan positif rate Covid-19 di Indonesia adalah ketidakberhasilan memutus rantai penularan. 

"Artinya, intervensi 3T tidak memadai. Padahal testing, tresing, isolasi dan karantina sangat efektif efektif untuk memutuskan penularan untuk menekan penyebaran covid-19," katanya saat diwawancarai, Sabtu (10/4/2021).

Baca juga: Pemahaman Soal Protokol Kesehatan Membuahkan Hasil, Sonny Harry: Jangan Libur Panjang Dulu

Oleh karenanya pemerintah harus merespon tingkat kematian yang terbilang masih tinggi dengan meningkatkan kembali protokol kesehatan.

Di sisi lain, deteksi dini juga berguna untuk mengantisipasi penderita Covid-19 mengalami gejala berat hingga kematian.

Mengingat penduduk Indonesia cenderung saat bergejala tidak datang ke fasilitas kesehatan seperti rumah sakit. Tidak pula melaporkan dan justru cenderung mengobati diri sendiri.

Sebagai informasi, menurut Dicky tidak hanya Indonesia, dunia selama 6 minggu terakhir juga mengalami peningkatan kasus.

Minggu lalu bahkan terlah terjadi 4 juta kasus masyarakat terinfeksi di dunia. Angka kematian juga meningkat sampai 11 persen.

Editor: Willem Jonata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved