Breaking News:

Sebelum Tutup Usia, Daniel Dhakidae Ungkap Keinginannya Terbitkan Majalah Prisma Edisi 50 Tahun

Cendikiawan Daniel Dhakidae memiliki keinginan untuk menerbitkan majalah Prisma edisi 50 tahun, sebelum dia wafat pada 6 April 2021 lalu.

Kompas.com/Wisnu Widiantoro
Daniel Dhakidae 

Sebagian kolega itu kerap mengingat kembali kenangan saat masih bersama Daniel pada berbagai kesempatan.

“Kita mengenang tokoh yang namanya identik dengan LP3ES dan majalah Prisma yang diasuhnya puluhan tahun,” ujar Direktur Pusat Studi Meia dan Demokrasi LP3ES, Wijayanto membuka Webinar Cendikiawan dan Kekuasaan: Mengenang Pemikiran Daniel Dhakidae, di Channel Youtube LP3ES Jakarta, Minggu (11/4/2021).

Wija, demikian sapaannya, mengenang satu ungkapan latin yang kerap dikutip Daniel Dhakidae, “Vita Brevis Dignitas Longa.”

Adapun artinya “Hidup Manusia itu Singkat, Namun Nilainya (Harkatnya) Melampaui Umur.”

“Tidak lah berlebihan untuk mengatakan Pimpred legendaris majalah Prisma dengan karya-karyanya adalah representasi dari ungkapan itu,” kenang Wija.

Bagi Wija, tulisan-tulisan Daniel, baik itu narasi singkat seperti pengantar redaksi Prisma atau kolom-kolom di Kompas, misalnya resensi tetralogi Winnetou karya Karl May adalah masterpiece.

Pun pengantarnya dalam “Catatan Seorang Demonstran” yang adalah buku harian seorang aktivis mahasiswa bernama Soe Hok Gie yang terbit 1983 dan diterbitkan LP3ES.

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Berikutnya, dilahirkan tapi mati muda, yang tersial adalah berumur tua. Berbahagia lah mereka yang mati muda. Ini adalah penggalan dari Catatan Harian Soe Hok Gie yang oleh generasi saya dihafal di luar kepala,” katanya

“ Jadi pengantar yang ditulis Daniel Dhakidae, saya jadi paham, seandainya tidak Daniel dan tim redaksi Prisma, mungkin buku harian ini tidak akan pernah sampai di kalangan pembaca, tidak akan pernah dibaca oleh saya dan kawan-kawan segenerasi serta para aktivis setelah Soe Hok Gie,” jelasnya.

Belum lagi buku-buku karyanya sendiri sebut saja beberapa di antaranya yang ditulisnya bersama Vedi Hadiz "Social Science and Power in Indonesia (2005),” Menerjang Badai Kekuasaan (2015) dan magna opusnya, “Cendekiawan dan kekuasaan dalam negara Orde Baru.”

Kemudian karya disertasinya yang berjudul "The State, the Rise of Capital and the Fall of Political Journalism" yang dipertahankan di Cornell University adalah salah satu magnum opus dalam bidang ini.

Pada bagian akhir dia mengutip tulisan Daniel Dhakidae di Kompas pada 27 November 20014, pada refleksinya tentang Nietzsche untuk menganalisa Karya Karl May.

“Untuk apa manusia hidup, peduli amat: akan tetapi untuk apa kau hidup, tanyakanlah dirimu sendiri. Kalau tidak berhasil kau dapatkan, nah tetapkan tujuan bagi dirimu sendiri, tujuan yang tinggi dan mulia dan kejarlah itu sampai mampu,” katanya.

“Saya pikir Bang Daniel adalah manifestasi dari tulisan itu, mengejar kemuliaan, mengejar hasrat yang sangat besar, kejarlah itu sampai mampus,” ujarnya.

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved