Breaking News:

Industri Dalam Negeri

Making Indonesia 4.0 Untuk Meningkatkan Daya Saing dan Daya Tarik Investasi

Dari sumber yang sama juga terungkap, sebanyak 65% responden mulai mengimplemetasikan teknologi baru dan 59% lainnya meningkatkan visibilitas.

BizzInsight
shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM - Pandemi Covid-19 memberikan tekanan yang sangat besar bagi industri dalam negeri. Hal ini membuat para pelaku industri perlu menyesuaikan diri untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan usaha mereka.

Keadaan seperti inilah yang tanpa disangka-sangka memacu percepatan adaptasi revolusi industri 4.0, bahkan menjadi langkah strategis mewujudkan Making Indonesia 4.0. Namun syaratnya, para pelaku usaha perlu ‘mengadopsi teknologi’ dalam penerapan bisnis mereka.

Menurut data dari World Economic Forum (WEF) pada Desember 2020 lalu menyatakan, sejumlah perusahaan di seluruh dunia merespon pandemi dengan mengadopsi teknologi dan melakukan digitalisasi agar mampu tetap beroperasi.

Dari sumber yang sama juga terungkap, sebanyak 65% responden mulai mengimplemetasikan teknologi baru dan 59% lainnya meningkatkan visibilitas.

Sementara itu, para responden survei Indonesia CIO Priorities Survey During Pandemic Covid-19 yang terdiri dari berbagai industri mulai dari perbankan, asuransi, layanan kesehatan, pemerintahan, manufaktur, logistik, telekomunikasi, pendidikan, minyak dan gas, hingga transportasi mengakui butuh beradaptasi dan mengadopsi teknologi baru agar bisnisnya bisa bertahan di masa pandemi.

Dikutip dari Harian Kompas, survei tersebut menyebutkan ada tiga teknologi digital yang bisa diadopsi untuk beradaptasi dengan perubahaan di masa kini, yaitu alat pertemuan atau kolaborasi virtual, e-dagang, serta keamanan akses dan jaringan.

Senada dengan itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menjelaskan, agar bisnis dapat terus berjalan, pelaku industri harus bisa melihat potensi pasar baru yang muncul akibat pandemi Covid-19.

Forbes, salah satu majalah bisnis dan finansial paling berpengaruh di dunia juga menyoroti hal serupa, di mana inovasi merupakan hal yang perlu dilakukan oleh setiap perusahaan.

Apalagi melihat kondisi pasar global yang begitu terbuka dengan persaingan ketat memaksa setiap perusahaan perlu melakukan inovasi, di antaranya seperti pengembangan produk yang dibarengi dengan penerapan teknologi IoT.

Walaupun di tengah pandemi, Indonesia pun semangat menjalankan langkah-langkah strategis Making Indonesia 4.0 dan menyiapkan diri dalam upaya mengambil peluang di revolusi industri 4.0 untuk meningkatkan daya saing bangsa di pasar global. Penerapan industri 4.0 di tanah air merupakan peluang untuk merevitalisasi sektor manufaktur di tanah air agar lebih efisien dan mampu menghasilkan produk berkualitas yang mampu bersaing secara global sekaligus menjadi daya tarik bagi investasi terutama dengan adanya UU Cipta Kerja yang menjadi angin segar bagi iklim investasi di tanah air.

“Di masa pandemi transformasi teknologi khususnya teknologi digital semakin penting. Transformasi teknologi yang menciptakan momentum, bukan saja membawa dunia keluar dari pandemi namun sekaligus melakukan lompatan besar ke depan,” ujar Jokowi saat membuka Hannover Messe 2021 Digital Edition Senin malam, 12 April 2021 dari Istana Negara.

Dengan menerapkan industri 4.0, kata Menperin, Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret 2021 berada di level 53,2 yang merupakan tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Selain itu, PMI manufaktur Indonesia selama 6 bulan berturut-turut berada di level agresif yaitu ekspansif.

Melihat beberapa catatan pencapaian selama satu tahun terakhir, Menteri Perindustrian melihat hal ini sebagai peluang yang sangat baik untuk terus mendorong implementasi industri 4.0 tanah air agar mampu meningkatkan daya saing mereka di pasar global.

Karena itu, pemerintah selaku pembuat kebijakan terus mendorong dan memfasilitasi kebutuhan riil dari sektor industri prioritas dalam mengadopsi teknologi industri 4.0 secara optimal.

“Kemajuan industri 4.0 akan menjadikan Indonesia top 10 economy global di tahun 2030,” terang Jokowi lagi.

Berbagai persiapan pun perlu dilakukan perusahaan, misalnya saja meningkatkan keterampilan dan keahlian sumber daya manusia agar teknologi IoT dapat berjalan maksimal.

“Kebutuhan digitalisasi mutlak diperlukan dalam dunia industri, baik dalam hal manajemen, capacity building, quality testing, serta track and trace sistem logistik, termasuk automasi dan perencanaan yang mampu bekerja sendiri,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang.

Kemampuan industri 4.0 Indonesia yang kini mendunia

Dari rilis Kemenperin yang diterima Tribunnews pada Jumat (9/4/2021) terungkap jika kemampuan industri 4.0 Indonesia kini kian hebat dan mendunia.

Buktinya Indonesia terpilih menjadi partner country di Hannover Messe 2021 yang berlangsung 12-16 April dalam format digital. Terpilihnya Indonesia sebagai partner country merupakan hal yang membanggakan karena Indonesia merupakan negara pertama di kawasan Asia Tenggara yang menjadi official partner coutry. Dirjen KPAII Eko S.A. Cahyanto menjelaskan terpilihnya Indonesia menjadi partner country menunjukkan keunggulan posisi Indonesia dalam revolusi industri 4.0.

“Hannover Messe 2021 merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk mewujudkan visi industrinya dan memperkenalkan roadmap Making Indonesia 4.0 kepada dunia,” kata Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto.

Selain itu, keterlibatan di Hannover Messe akan menjadi tolok ukur terhadap langkah strategis Indonesia menuju tren teknologi terbaru, serta menunjukkan kapasitas dan kemampuan Indonesia dalam upaya penerapan teknologi manufaktur terkini.

Keunggulan Indonesia diperkuat dengan adanya Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia dan jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar. Keterlibatan Indonesia di Hannover Messe dapat memberikan peluang untuk meraih sejumlah investasi potensial ke Indonesia.

Di ajang Hannover Messe ini ada 156 eksibitor yang dikelompokkan ke dalam enam topik, antara lain automation, motion, and drives, yang terdiri dari 15 eksibitor, digital ecosystems sebanyak 56 eksibitor, energy solutions 13 eksibitor, engineered parts & solutions 20 eksibitor, new work sebanyak 38 eksibitor, serta global business & markets terdiri dari 15 eksibitor.

Informasi lebih lanjut mengenai keikutsertaan Indonesia di ajang Hannover Messe 2021 bisa mengunjungi situs indonesiahm2021.id.

Penulis: Dea Duta Aulia/Editor: Bardjan

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Produk Populer

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved