Breaking News:

OTT Menteri KKP

Penyuap Edhy Prabowo Sebut Ekspor Benur Tidak Menguntungkan

Suharjito mulanya menjelaskan bahwa harga ekspor benur yang dipatok KKP dinilai terlalu tinggi.

Tribunnews/Irwan Rismawan
Terdakwa kasus suap izin ekspor benih lobster tahun 2020, Edhy Prabowo menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (28/4/2021). Agenda sidang dengan terdakwa mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) tersebut adalah mendengarkan keterangan saksi. Tribunnews/Irwan Rismawan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur PT Dua Putra Perkasa Pratama (DPPP) Suharjito sekaligus penyuap mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, mengaku bisnis ekspor benih lobster (benur)  tak bikin untung.

Sebab banyak risiko bisnis yang membuat nilai benur berkurang.

Pernyataan ini disampaikan Suharjito saat menjadi saksi dalam sidang lanjutan kasus dugaan suap izin ekspor benur untuk terdakwa Edhy Prabowo di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (5/5/2021).

Suharjito mulanya menjelaskan bahwa harga ekspor benur yang dipatok KKP terlalu tinggi.

Kata dia, biaya ekspor benur yang seharusnya hanya Rp 300 per ekor melonjak jadi Rp1.800 per ekor lantaran ada hitung-hitungan pembayaran ke PT ACK selaku perusahaan kargo.

"Jadi sebelumnya itu kita sudah hitung sampai plastiknya kita hitung. Kita kan memang bisnis, sudah kita menghitung itu kemahalan," kata Suharjito.

Baca juga: Sidang Kasus Ekspor Benur, Edhy Bantah Menhan Prabowo Jadi Pengendali PT ACK

Ia mengaku tak punya pilihan untuk mundur sehingga terus melanjutkan bisnis ekspor benur tersebut.

Pasalnya komitmen sudah terbentuk antara PT ACK dengan pihak KKP sehingga harga ditentukan Rp1.800 per ekor.

"Karena itu tidak ada suatu pilihan. Karena waktu saya bergabung sama pak Chandra Astan (Direktur PT Grahafoods Indo Pasifik) di kantor saya itu memberitahu selaku ketua asosiasi Perduli (Persatuan Dunia Lobster Indonesia) yang pasti terima keluhan dari anggota. Nah itu saya bertemu lalu Candra cerita untuk ACK itu sudah komitmen dengan pihak KKP sehingga harganya Rp1.800," tuturnya.

Suharjito mengatakan keuntungan tak bisa didapat lantaran pihak pembeli sudah tahu kuota ekspor benur setiap perusahaan. Sehingga harganya sudah diperkirakan sedari awal.

"Misalkan 10 ribu benih, Vietnam sudah ngitung 10 ribu kali Rp1.800 plus PPDB Rp1.000, nah sudah Rp2.800, nah nanti dikasih selisih (keuntungan) paling harga Rp1.000 atau Rp1.500," kata dia.

Selisih untung Rp1000 - Rp1.500 per ekor juga tidak bisa dipastikan. Pasalnya banyak faktor yang bisa membuat rugi atau keuntungan berkurang seperti benur mati hingga penurunan kualitas seperti perubahan warna.

"Di situ ada kematian, hitungan, berubah warna, kurang ini itu yang rugi," sambungnya.

"Jadi usaha BBL ini nggak ada untung, nggak ada untung. Saya sendiri 12 kali ekspor cuman untung Rp40 juta, yang lainnya rugi," pungkas Suharjito.

Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved