Breaking News:

Mudik Lebaran 2021

Kerja Kepolisian Jalankan Kebijakan Larangan Mudik Lebaran Diapresiasi

“Kami mendukung alasan larangan mudik yang disampaikan Kapolri. Asas keselamatan rakyat yang utama,” katanya.

WARTA KOTA/WARTA KOTA/NUR ICHSAN
626 KENDARAAN DIPUTAR BALIK - Petugas Kepolisian melakukan penyekatan mudik di Gerbang Tol Cikupa, Kabupaten Tangerang, Kamis (6/5/2021). Di lokasi ini petugas berhasil memaksa 626 kendaraan warga yang ingin nekat mudik lebaran untuk memutar arah ke daerah asal. WARTA KOTA/NUR ICHSAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jaringan Mubaligh Muda Indonesia (JAMMI) mengapresiasi langkah Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam pelaksanaan larangan mudik Lebaran 2021. Bahkan JAMMI mengungkapkan, anggota Polri menghalau pemudik hingga ke jalur tikus.

Koordinator Nasional JAMMI, Irfaan Sanoesi memuji Kepala Negara Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang menjelaskan, larangan mudik lebaran 2021 oleh pemerintah dengan jelas, arif dan bijaksana.

“Kami mendukung alasan larangan mudik yang disampaikan Kapolri. Asas keselamatan rakyat yang utama,” katanya.

Kemudian keselamatan rakyat sebagai hukum tertinggi atau Salus Supreme Lex Esto, menurutnya menjadi dasar Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri dalam pengawasan terhadap masyarakat yang dilarang mudik lebaran.

Baca juga: Larangan Mudik Lokal Akan Efektif Jika Ada Kerja Sama dari Seluruh Elemen

“Korlantas Polri dengan sigap menerjemahkan larangan mudik dengan mengerahkan personel Polri menghalau pemudik. Tak hanya di jalan utama, namun juga hingga jalan-jalan tikus yang berpotensi dilewat pemudik,” sambungnya.

Irfan pun mengapresiasi Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Inspektur Jenderal Istiono karena operasi ketupat 2021 mengedepankan tindakan persuasif dan humanis.

“Meski terjadi penghalauan pemudik, namun Korlantas Polri tetap mengedepankan tindakan persuasif dan humanis,” imbuhnya.

Dia melanjutkan, masyarakat yang nekad mudik akan diberi teguran dan diperintah agar putar balik ke daerah asal. Kemudian salah bentuk pencegahan yang dilakukan Korlantas Polri adalah penyekatan di pos-pos dengan menyebar 155 ribu personel di 381 titik.

Baca juga: Kisah Masitoh, Mudik Jalan Kaki dari Jateng ke Bandung, Bawa 2 Anaknya yang Masih Balita

Irfaan juga memahami jika di lapangan terjadi dinamika di hari pertama penyekatan mudik yang menurutnya biasa terjadi jika warga menemui kondisi baru.

“Ada pemeriksaan dan penyekatan bagi pemudik tapi bukan bagi pekerja yg hendak bekerja di daerah tersebut," ujarnya.

Irfan menegaskan, setelah dinamika tersebut tersebar informasi luas baik di media maupun medsos bahwa kondisi di lapangan sudah normal kembali para pekerja sudah bisa melintas dengan lancar.

Halaman
12
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved