Kuliner Bipang Ambawang

Soal Bipang Ambawang, Mendag Muhammad Lutfi Niat Mengklarifikasi Malah Kena Sentil Politisi PDIP

"Kenapa tidak dicek script-nya, kenapa tidak dicek sebelum dipublikasikan? Apa ada maksud ingin mendiskreditkan Presiden?," kata Mufti.

Editor: Choirul Arifin
Sekretariat Presiden
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi. 

Laporan Wartawan Tribun Network, WIly Widianto 
 
 
 
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Perdagangan M Lutfi membuat sebuah video klarifikasi terkait promosi kuliner Presiden Jokowi yang mengajak masyarakat memesan oleh-oleh kuliner dan jajanan khas daerah, salah satunya bipang ambawang, terkait larangan mudik Lebaran 1442 Hijriah. 

Di video tersebut Mendag Lutfi sudah meminta maaf terkait isi video promosi kuliner mudik tersebut, namun Politisi PDI Perjuangan, Mufti Anam malah menyampaikan kritikan.

Mufti mengatakan, jika video promosi kuliner yang menyebut nama makanan khas Kalimantan bipang ambawang adalah dalam rangka Hari Bangga Buatan Indonesia, seharusnya konteks pembicaraan tidak disangkutkan dengan mudik.

“Presiden Jokowi adalah pecinta kuliner lokal, pecinta UMKM. Tapi tentu beliau tidak hafal nama puluhan ribu jenis kuliner di tanah air. Mendag Lutfi mestinya paham kalau mau bikin gerakan seperti itu, jangan malah bekerja tidak teliti sehingga membuat Pak Jokowi terpojok,” ujar Mufti dalam pernyataan yang diterima Tribun, Sabtu(8/5/2021).

Baca juga: Video Jokowi Promosikan Bipang Ambawang Viral di Medsos, Ini Kata Mendag

Mufti mengatakan, evaluasi menyeluruh diperlukan terhadap kinerja Kementerian Perdagangan. 

Ia juga mempertanyakan langkah teknis sebelum penayangan video promosi kuliner nusantara tersebut.

Baca juga: Maman Imanulhaq Protes Keras Promosi Jokowi Soal Bipang Ambawang

"Kenapa tidak dicek script-nya, kenapa tidak dicek sebelum dipublikasikan? Apa ada maksud ingin mendiskreditkan Presiden?," kata Mufti.

Anggota Komisi VI DPR ini juga mencermati kinerja Menteri Perdagangan M Lutfi. Mendag Muhammad Lutfi disebut Mufti beberapa kali keliru dalam memberikan masukan ke Presiden.

“Mulai dari benci produk asing sampai bipang ambawang yang viral di seluruh Indonesia, dan sampai jadi perbincangan di kalangan tokoh-tokoh agama di desa-desa di dapil saya,” ujar Mufti yang berasal dari daerah pemilihan Pasuruan-Probolinggo ini.

Menurut Mufti, kinerja Mendag Lutfi “diuntungkan” dengan situasi pandemi di mana daya beli rakyat sedang tidak prima, sehingga membuat fluktuasi harga relatif terkendali saat bulan Ramadan dan jelang Lebaran. Tercatat hanya daging sapi yang kini harganya relatif berfluktuasi. 

“Tapi ingat, stabilitas harga bahan pokok saat ini bukan karena kinerja Mendag, tapi memang daya beli sedang susut,” pungkas Mufti.

Sebelumnya, Presiden Jokowi ajak masyarakat Indonesia untuk belanja online menjelang Lebaran saat ini. Salah satunya belanja kuliner khas daerah, untuk mengobati kerinduan pada kampung halaman.

"Untuk bapak ibu dan saudara-saudara yang rindu kuliner khas daerah atau yang biasannya mudik membawa oleh-oleh, tidak perlu ragu untuk memesannya secara online," kata Jokowi dalam video yang dilihat Tribun.

"Yang rindu makan gudeg Jogja, bandeng Semarang, siomay Bandung, empek-empek Palembang, bipang ambawang dari Kalimantan dan lain-lainnya tinggal pesan, dan makanan kesukaan akan diantar sampai ke rumah," katanya.

Makanan-makanan tersebut menurut Jokowi bisa dipesan untuk disantap di rumah. Atau, bisa juga dikirimkan kepada sanak saudara sebagai oleh-oleh atau hadiah.

Pernyataan Jokowi tersebut kemudian menuai beragam tanggapan di media sosial.

Pasalnya presiden menyebut Bipang Ambawang yang identik dengan Babi Panggang. Makanan tersebut tidak tepat apabila dikaitkan dengan perayaan Idul Fitri.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved