Breaking News:

Tahun Lalu, 156.549 Balita di Jawa Tengah Mengalami Stunting  

drg. Widwiono juga mengatakan bahwa angka stunting dan perkawinan anak berperan besar terhadap kesehatan masyarakat.

Tribunnews/Jeprima
Petugas medis menyuntikkan vaksin kepada seorang balita yang mengikuti imunisasi di Puskesmas Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (26/11/2020). Imunisasi rutin lengkap merupakan program vaksin dasar yang diberikan kepada bayi kurang dari 24 jam hingga anak berusia 3 tahun dengan tujuan mempertahankan tingkat kekebalan optimal sekaligus mencegah terjadinya stunting pada anak. Tribunnew/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gubernur Provinsi Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan, stunting masih menjadi tantangan besar terhadap sumber daya manusia, terutama selama pandemi.

Pada 2020, sebanyak 156.549 balita di Jawa Tengah mengalami stunting.  

"Hal ini dapat disebabkan oleh praktek pengasuhan yang tidak baik, kurangnya akses ke makanan bergizi, kurangnya akses air bersih, hingga terbatasnya layanan kesehatan," kata Ganjar dalam sambutannya pada “Gubernur Jateng Tilik Kampung KB” secara virtual belum lama ini.

Baca juga: Peringati Hari Keluarga Nasional, Komisi PRK MUI Gelar Webinar Nasional Cegah Stunting

Untuk itu, kata dia penting untuk memberikan gizi baik seperti susu dan vitamin, hingga melibatkan berbagai pihak misalnya LSM dan aktivis maupun swasta seperti Danone Indonesia untuk pengadaan air bersih.

"Dengan upaya bersama, kita bisa mencapai Indonesia Maju di 2045,” kata Ganjar.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah, drg. Widwiono juga mengatakan bahwa angka stunting dan perkawinan anak berperan besar terhadap kesehatan masyarakat.

“Terdapat beberapa hambatan yang terjadi di keluarga, mulai dari kurangnya informasi terkait pola hidup sehat, hingga tingginya angka perkawinan anak dan stunting, terutama di Kabupaten Wonosobo. Dalam rangka Harganas (hari keluarga nasional,red), kami menyelenggarakan rangkaian kegiatan mulai dari perlombaan di sosial media hingga kampanye Jo Kawin Bocah. Hal ini dilakukan sebagai langkah edukasi untuk menekan angka perkawinan anak dan angka stunting.”

Baca juga: MUI: Mencegah Stunting Merupakan Perilaku Mengajak Kebaikan dan Jihad

Disamping pentingnya peran keluarga, Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa keluarga di Indonesia masih mengalami berbagai tantangan kesehatan.

Hal ini meliputi dari kondisi stunting yang dialami 30,8 persen balita, anemia yang dialami sekitar 1 dari 3 balita dan 1 dari 2 wanita hamil, hingga 1 dari 5 anak Indonesia tidak cukup minum air.

Halaman
12
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved