Breaking News:

Virus Corona

Satgas Covid-19: Jakarta Provinsi Paling Tidak Patuh Jaga Jarak, Banten Terbanyak Tak Pakai Masker

Selain DKI Jakarta, Wiku juga menyebut Banten sebagai provinsi yang masyarakatnya rendah dalam kepatuhan menggunakan masker.

Editor: Hasanudin Aco
Tribunnews/Irwan Rismawan
Warga menyaksikan pemotongan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha 1442 H di Masjid Darul Falaah, Jakarta, Selasa (20/7/2021). Masjid tersebut memotong sebanyak 11 ekor sapi dan 16 ekor kambing yang akan dibagikan kepada masyarakat di wilayah Petukangan Utara. Tribunnews/Irwan Rismawan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, DKI Jakarta menjadi provinsi paling tidak patuh dalam menjaga jarak.

Berdasarkan dari monitoring protokol kesehatan satu minggu terakhir, ketidakpatuhan warga DKI dalam menjaga jarak mencapai 48,26 persen.

“Untuk desa kelurahan yang tidak patuh menjaga jarak, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan kelurahan yang paling banyak, yaitu 48,26% atau hampir setengah kelurahan di DKI Jakarta masyarakatnya tidak patuh dalam menjaga jarak,” kata Wiku Adisasmito dalam keterangannya, Selasa (20/7/2021).

Selain DKI Jakarta, Wiku juga menyebut Banten sebagai provinsi yang masyarakatnya rendah dalam kepatuhan menggunakan masker.

“Kelurahan yang tidak patuh memakai masker paling banyak terdapat di Banten sebesar 28,57 persen,” ujarnya.

Baca juga: 50 Persen Masjid di Jakarta Pusat Tetap Gelar Salat Idul Adha

Mengacu pada data tersebut, Wiku menilai pengawasan dan tindak tegas pelanggaran protokol kesehatan perlu menjadi hal penting yang direncanakan matang pelaksanaannya sebelum relaksasi dilakukan.

“Lebih dari itu, beberapa hal perlu diperhatikan sebelum relaksasi dilakukan yaitu yang pertama komitmen, seluruh unsur komitmen pemerintah daerah, TNI, Polri, Puskesmas, hingga ketua RT/RW untuk menjalankan penanganan dengan baik,” kata Wiku.

“Ini penting sebagai modal kita melaksanakan relaksasi yang aman dan efektif,” tambahnya.

Kemudian, lanjut Wiku, rencana dan evaluasi yang matang terkait sasaran ruang lingkup dan metode penanganan menjadi penting untuk mencapai keefektifan penanganan.

“Evaluasi secara berkala juga harus dilakukan agar kualitas penanganan dapat terus ditingkatkan,” ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Kompas TV
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved